INDONESIA-TAIWAN (Rénshēng) PART 7
Efesus 4:32 (Kitab Injil)
"Teng,,,,teng,,,teng" suara itu terdengar beberapa kali di telinga saya. Tidak keras, nyaring tapi sakral. Bunyinya selalu terdengar di hari Minggu sekitar pukul 9 pagi.
Bunyi itu juga mengingatkan saya jika diseberang jalan sana aktivitas peribadatan akan segera dilakukan di gereja.
Rumah Ama di Changhua ini sangat dekat dengan gereja, tepatnya di seberang jalan depan rumah ama berdiri bangunan kokoh menjulang tinggi tempat umat Kristiani beribadah.
Saya sendiri belum pernah mengunjungi gereja ini secara langsung di bagian depan, akan tetapi setiap hari saya selalu melihat sisi bangunan belakang gereja ini karena tepat berada di depan rumah Ama.
Jika diamati secara teliti, bangunan gereja ini memiliki arsitektur bergaya Eropa, bahkan nama gereja ini pun juga sangat barat
"David Landsborough III Presbyterian Church- 台灣基督長老教會蘭大衛紀念教會".
Jika bicara soal Kristen, saya sebenarnya tidak punya cerita spesifik soal ini. Selain karena agama saya bukan Kristen, saya juga tidak pernah belajar soal Kristen secara langsung maupun secara formal seperti di bangku sekolah atau kuliah.
Akan tetapi secara kebetulan saya pernah bertemu dan mendengarkan cerita soal beberapa umat Kristiani yang mungkin agak atau lumayan menarik untuk dibagikan.
Kebetulan sebelum saya berangkat ke Taiwan, saya pernah melakukan PKL di rumah Oma Sylvia. Saya tidak tau pasti beliau ini menganut Kristen protestan, Kristen Katolik, Kristen Ortodoks atau golongan Kristen yang lain. Akan tetapi saya bisa katakan jika Oma merupakan orang yang religius.
Saat saya kerumahnya, saya melihat patung Krusifiks Tuhan Yesus yang dipajang di dinding atas pintu bagian depan. Selain di dinding, saya melihat beberapa pernak-pernik umat Kristiani juga ada di atas meja rumah Oma.
Oma Sylvia ini bicaranya lembut, selama seminggu saya PKL di sana beliau juga selalu rutin melakukan ibadah pagi, baik itu di kamar maupun di kursi ruang tamu rumahnya.
Bentuk sifatnya yang religius juga terlihat dari caranya berbicara dengan anak-anaknya. Saya ingat setiap kali bicara melalui telepon atau video call dengan anaknya beliau sangat sering mengingatkan mereka untuk berdoa kepada Tuhan Yesus.
Kebetulan di rumah Oma juga ada salah satu cucunya. Saya lupa namanya, dia cewek dan masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), secara looks dia terlihat sangat Cindo. Saya masih ingat, pernah suatu waktu dia mau terpeleset di samping saya, dan dengan reflek dia mengatakan "Oh,,, Tuhan Yesus". Sebenarnya kalimat itu biasa, cuman terasa kurang familiar terdengar di telinga saya, karena jarang sekali saya berbaur dengan orang Kristen, dan karena lingkungan saya didominasi orang beragama islam.
Selain itu, Oma Sylvia ini type orang yang tidak banyak bicara dan bukan type orang tua yang rewel atau gampang marah, beliau juga type orang tua yang suka mengajari atau memberi contoh, pun termasuk ke saya.
Oma juga bukan orang yang perhatian, saya ingat saat masih PKL di rumahnya, Oma secara rutin mungkin setiap hari memberi saya Vitamin B Kompleks, untuk bantu daya tahan tubuh katanya.
Ada satu momen di mana pas saya mau pamitan setelah selesai PKL, Oma Sylvia berpesan supaya saya selalu hati-hati, pinter-pinter pilih teman (pergaulan) dan jangan asal percaya sama orang.
Meski hanya sebentar bertemu beliau, komunikasi kami tidak langsung terputus. Saat saya sudah berangkat di Taiwan, Oma masih sempat menghubungi saya, beliau kembali mengingatkan saya supaya sering berdoa.
Well it obviously an important advice for me, karena saya bukan type orang religius yang sering ibadah dan berdoa. Bahkan saya juga bukan type orang yang gampang mengucapkan kalimat pendek Islami seperti "Astagfirullah, Masya Allah, dan semacamnya." But again, its important for a young people like me.
Yang kedua ada Mbok Endang, anak-anak di PT lebih suka memanggilnya dengan sebutan Mbok e. Bisa saya katakan jika mbok e ini sudah menjadi bagian dari keluarga besar PT Intersolusi Surabaya.
Beliau ini selain menjadi "penguasa" dapur di PT, tapi juga masih aktif melakukan serangkaian kegiatan keagamaan di gereja.
Satu waktu saya pernah menemui mbok e dikamarnya, saya melihat tepat di bagian tengah dinding timur atas kamarnya ada patung krusifiks Tuhan Yesus di sana.
"Jo, Paijo,,,,,," itu panggilan yang mbok e beri ke saya. Saya bahkan masih sangat ingat ciri khas suaranya saat memanggil saya. Meski hanya sekitar sebulan saya di Surabaya, akan tetapi saya pernah melakukan "deep talk" dengan mbok e. Ya mungkin hanya 2-3 kali, tapi ini menjadi salah satu momen yang lumayan berarti buat saya secara pribadi.
Saat sudah sampai di Taiwan, saya kembali dipertemukan dengan umat Tuhan Yesus yang baik lagi. Kali ini di rumah sakit Kristen tempat saya melakukan Medical Check Up (MCU).
Saya berpikir mungkin beliau ini biarawati atau sister yang tengah melakukan pengabdian di rumah sakit, hal itu terlihat dari pakaiannya yang sangat tertutup dengan baju dan tudung berwarna serba putih dan bersih. Dari caranya berbicara pun juga sangat lembut dan nyaman didengar di telinga.
Dengan sigap beliau membantu kami para PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang tengah melakukan pemeriksaan dari tahap pertama setelah pengumpulan data sampai pengecekan satu per satu seperti cek tubuh, rontgen, pengambilan darah seterusnya sampai selesai.
Well so glad that i can meet them. Maybe its just a short time, but truly meaningful. We may have not same faith, but those are so precious. What an amazing part of life.
Mungkin yang mereka lakukan ini cerminan nyata dari surat dalam kitab Injil yang isinya soal kebaikan berupa kasih sayang, salah satu bunyinya yakni
"Hendaklah kamu baik hati seorang terhadap yang lain, lemah lembut, dan saling mengampuni, sebagaimana Allah melalui Kristus telah mengampuni kamu."
Efesus 4:32 (Kitab Injil).
(Tafsir / penjelasan lebih lanjut soal Surat Efesus 4:32 dalam Kibat Injil)
Fyi, its not important but kebetulan hari H saya berangkat ke Taiwan pada tanggal 5 April hari Minggu itu bertepatan dengan hari Paskah, dan secara kebetulan lagi hari Paskah ini menjadi salah satu hari terbaik yang dimiliki umat Kristen.











Komentar