I Er San Kaishe (Indonesia-Taiwan)
有理走遍天下,无理寸步难行
Bila kebenaran ada di pihak kita, kita dapat pergi kemanapun. Namun tanpa kebenaran, kita tidak bisa melangkah ke mana – mana.
Mungkin itulah pepatah China yang cocok menjadi pembuka dari tulisan ini.
31 Oktober 2025, menjadi hari pertama saya menginjakkan kaki di PT tempat saya akan belajar dan berproses, jujur sebagai seorang lulusan S1 keputusan ini sempat menjadi salah 1 hal yang sangat saya renungkan dan pikirkan.
For your information, PT yang saya pilih untuk "proses" bernama PT Intersolusi, njenengan bisa membaca segelintir info soal PT ini melalui link berikut (PT Intersolusi Indonesia - https://intersolusi.id/company-profile/ )
Back to the story, sebagai anak muda minim pengalaman, ada beberapa perasaan yang sempat saya khawatirkan,
Ada perasaan takut salah pilih,
Takut salah langkah,
Takut gagal, dan sebagainya yang sempat hinggap di benak saya.
Awal mula sebelum masuk PT, di pikiran saya,
saya hanya akan mendapatkan ilmu bahasa Mandarin saja. Tapi lambat laun setelah berjalannya waktu saya mendapatkan lebih dari itu, selama sekitar kurang dari 4 bulan di Tulungagung, saya mendapatkan banyak hal yang bahkan belum atau sama sekali tidak pernah saya dapat selama di rumah & bangku sekolah.
"I...er....san, kaishe"
Satu, dua, tiga mulai, itulah artinya.
Kalimat ini sangat sering saya ucap saat akan membaca buku di kelas,
Tapi sekarang saya merasa, juga cocok menjadi kalimat yang mampu merepresentasikan setiap momen yang akan saya jalani kedepannya.
Saya meyakini, setiap momen pasti menghadirkan banyak rasa, entah itu suka, sedih, bahagia, duka dan sebagainya. Akan tetapi satu hal yang pasti, selalu ada alasan dibalik kejadian itu.
Mau tidak mau, suka tidak suka itulah yang namanya "proses belajar" dalam hidup.
Banyak sekali momen heart warming, yang begitu menyentuh yang saya temui selama di PT.
Saya sendiri tidak bisa mengingat secara detail peristiwanya satu per satu.
Akan tetapi, salah 3 contoh kejadian yang sangat saya apresiasi karena saya lihat secara langsung adalah momen saat para ibu atau Mǔqīn ini bercengkrama dengan keluarga mereka di rumah melalui video call.
Wajah para ibu yang sebelumnya terlihat lelah seketika sumringah saat berbicara dengan anak mereka di rumah.
"Assalamualaikum, kamu lagi makan apa?"
"Sudah mandi atau belum..?"
"Tadi belajar apa dek?"
"Endi bocah e ...?"
Tutur ibu-ibu ini dengan nada bahagia.
Itulah obrolan singkat yang beberapa kali saya dengar dari mereka.
Tutur ibu-ibu ini dengan nada bahagia.
Itulah obrolan singkat yang beberapa kali saya dengar dari mereka.
Kedua, momen saat saya diberi nasihat, masukan sampai pelajaran hidup dari orang disekitar saya, baik itu dari Cece maupun dari sesama mbak-mbak PT lainnya.
Masukan semacam ini jelas menjadi salah satu hal yang sangat saya perlukan, karena tidak semua orang yang saya temui akan peduli dengan itu.
Kejadian lain yang tidak kalah membuat saya melting sebagai seorang anak yang tumbuh tanpa Ibu adalah momen saat mereka melontarkan pertanyaan ringan atau melontarkan kata yang sangat jarang saya dapatkan di rumah.
"Mbak husna ndang maem"
"Mbak husna ayo mangan karo aku"
"Mbak husna seneng opo"
"Mbak husna tak bantu ya,"
dll.
Saya juga sempat menemukan salah seorang mbak-mbak PT ini memiliki semangat yang luar biasa dalam hal belajar, bahkan saya berani mengatakan, semangatnya berada di atas semangat belajar beberapa rekan saya di bangku kuliah.
Momen-momen ringan keseharian yang nampaknya sepele seperti ini, semakin meyakinkan saya. Kalau ikatan keluarga memang tidak harus memiliki hubungan sedarah. Akan tetapi dukungan tanpa syarat, rasa pengertian, apresiasi sampai lantunan doa dari orang lain kiranya cukup untuk menyebut mereka sebagai keluarga saya.
Akhir kata, saya hanya bisa mengatakan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh staff dan mbak-mbak yang ada di PT. Saya juga mengucapkan maaf atas kesalahan dalam bentuk tutur kata, perbuatan, maupun lewat pikiran yang mungkin secara sengaja maupun tidak sengaja telah saya buat.
Saya berharap semoga segala hajat, keinginan, doa serta harapan mulia dari mbak-mbak semua bisa terwujud, dan semoga atas izin Gusti Allah, kita bisa mendengar kabar bahagia antar satu sama lain di masa yang akan datang.
Dilain sisi, saya juga berharap kiranya ilmu & semua kebaikan yang saya dapat selama ini, bukan hanya bisa memberi dampak positif bagi saya. Tapi, semoga bisa juga saya tiru dan saya bagikan bagi orang sekitar, termasuk untuk mereka yang akan bertemu dengan saya di masa yang akan datang, baik itu di Taiwan maupun saat di Indonesia.
Xie-xie ni Ce Sulis, Bu Rahma, Ce Ika, terima kasih juga mbak-mbak semua.
Thanks a lot & may we always meet good people and learn from others anywhere.
(Few moments in Tulungagung)
Bersambung, Surabaya Februari............









Komentar