I Er San Kaishe (Indonesia-Taiwan)
Surabaya, 2 Maret 2026 - 5 April 2026
Taiwan, April 2026
有理走遍天下,无理寸步难行
Bila kebenaran ada di pihak kita, kita dapat pergi kemanapun. Namun tanpa kebenaran, kita tidak bisa melangkah ke mana – mana.
Mungkin itulah pepatah China yang cocok menjadi pembuka dari tulisan ini.
31 Oktober 2025, menjadi hari pertama saya menginjakkan kaki di PT tempat saya akan belajar dan berproses, jujur sebagai seorang lulusan Perguruan Tinggi, keputusan ini sempat menjadi salah 1 hal yang sangat saya renungkan dan pikirkan.
For your information, PT yang saya pilih untuk "proses" bernama PT Intersolusi, njenengan bisa membaca segelintir info soal PT ini melalui link berikut
(PT Intersolusi Indonesia - https://intersolusi.id/company-profile/ )
Back to the story, sebagai anak muda minim pengalaman, ada beberapa perasaan yang sempat saya khawatirkan,
Ada perasaan takut salah pilih,
Takut salah langkah,
Takut kecewa,
Takut gagal, dan pikiran familiar lain pun juga sempat hinggap di benak saya.
Awal mula sebelum masuk PT, saya pikir,
saya hanya akan mendapatkan ilmu bahasa Mandarin dan "nunut" proses saja.
Tapi lambat laun setelah berjalannya waktu, saya merasa mendapatkan lebih dari itu, selama sekitar kurang dari 4 bulan di Tulungagung dan selama sekitar 1 bulan di kota Pahlawan, saya mendapatkan banyak hal yang bahkan sama sekali belum pernah saya pikirkan sebelumnya, dan hal ini sedikit-banyak membuka pikiran, cara bersikap dan cara pandang saya terhadap orang sekitar.
_________
"I...er....san, kaishe"
Satu, dua, tiga mulai, itulah artinya.
Kalimat ini sangat sering saya ucap saat akan membaca buku di kelas,
Tapi sekarang saya merasa, juga cocok menjadi kalimat yang mampu merepresentasikan setiap momen yang akan saya jalani kedepannya.
Saya meyakini, setiap momen pasti menghadirkan banyak rasa, entah itu suka, sedih, bahagia, duka dan sebagainya. Akan tetapi satu hal yang pasti, selalu ada alasan dibalik kejadian itu.
Mau tidak mau, suka tidak suka itulah yang namanya "proses belajar" dalam hidup.
Banyak sekali momen heart warming, yang begitu menyentuh yang saya temui selama di PT.
Saya sendiri tidak bisa mengingat secara detail peristiwanya satu per satu.
Akan tetapi, salah beberapa kejadian yang sangat saya apresiasi karena saya lihat secara langsung adalah momen saat para ibu atau Mǔqīn ini bercengkrama dengan keluarga mereka di rumah melalui video call.
Wajah para ibu yang sebelumnya terlihat lelah seketika sumringah saat berbicara dengan anak mereka di rumah.
"Assalamualaikum, kamu lagi makan apa?"
"Sudah mandi atau belum..?"
"Tadi belajar apa dek?"
"Endi bocah e ...?"
Tutur ibu-ibu ini dengan nada bahagia.
Itulah obrolan singkat yang beberapa kali saya dengar dari mereka.
Tutur ibu-ibu ini dengan nada bahagia.
Itulah obrolan singkat yang beberapa kali saya dengar dari mereka.
Kedua, momen saat saya diberi nasihat, masukan sampai pelajaran hidup dari orang disekitar saya, baik itu dari Cece maupun dari sesama mbak-mbak PT lainnya.
"Mbak Husna sok pas ko Taiwan kudu ngene ya."
"Sok wakmu pas ko me majikan ngene o."
"Ojo lali nggowo iki pas pe budal."
Masukan dan saran semacam ini jelas menjadi salah satu hal yang sangat saya perlukan, karena tidak semua orang yang akan keluar negri mendapatkan saran semacam ini. Belum tentu juga orang lain mendapatkan rasa peduli semacam ini.
Kejadian lain yang tidak kalah membuat saya melting sebagai seorang anak yang tumbuh tanpa Ibu adalah momen saat mereka melontarkan pertanyaan ringan atau melontarkan kata yang sangat jarang saya dapatkan di rumah.
"Mbak husna ndang maem"
"Mbak husna ayo mangan karo aku"
"Mbak husna seneng opo"
"Mbak husna tak bantu ya,"
dll.
Saya juga sempat ingat omongan dari Cece saat masih di PT, beliau bilang kalau segala sesuatu dilakukan dengan niat baik, niscaya hasilnya pun pasti akan baik juga.
Perhatian semacam ini terus saya dapatkan bahkan sampai detik-detik saya akan mendarat di Taiwan.
Satu per satu orang membantu saya, bahkan tanpa saya minta tolong sekaligus.
Secara silih berganti, dari mbak-mbak, keluarga, teman, staff, pengajar sampai orang yang baru saya temui selama beberapa jam secara bergantian mendoakan saya. Entah itu secara langsung, lewat HP, lewat chat WA maupun lewat doa yang mereka panjatkan tanpa saya ketahui secara langsung.
Bahkan hal ini saya dapatkan sampai sekarang. (Sampai tulisan ini saya buat-11/4).
Dan alhamdulillahnya, doa-doa dari njenengan semua terkabulkan. Keluarga majikan tempat saya bekerja sangat baik dan pengertian, saya pribadi merasa cepat akrab dan nyaman berada dengan mereka.
Disuatu waktu saat mau terbang, saya juga menyempatkan diri berbincang dengan Cece di Surabaya, sebenarnya banyak sekali wejangan dan info yang saya dapat. Tapi saya sangat ingat saat beliau bilang cara supaya kita cepat nyaman kerja di Taiwan itu kita harus bisa memperlakukan majikan (ama) dengan baik, kita juga harus bisa menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Jadi jangan apa-apa dinilai dari segi dunia saja, ikatan semacam ini, perasaan tulus semacam ini bisa membuka banyak hal, termasuk membuka rejeki dan kenyamanan kita sendiri.
(Foto beberapa barang/makanan yang saya dapat dari keluarga majikan sejak hari pertama datang di rumah majikan Taiwan-Changhua City)
Momen-momen ringan keseharian, sampai momen berharga yang saya alami di PT, semakin meyakinkan saya. Kalau ikatan keluarga memang tidak harus memiliki hubungan sedarah. Akan tetapi dukungan tanpa syarat, rasa pengertian, apresiasi sampai lantunan doa dari orang lain kiranya cukup untuk menyebut mereka sebagai keluarga saya.
Akhir kata, saya hanya bisa mengatakan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh staff dan mbak-mbak yang ada di PT. Saya juga mengucapkan maaf atas kesalahan dalam bentuk tutur kata, perbuatan, maupun lewat pikiran yang mungkin secara sengaja maupun tidak sengaja telah saya buat.
Saya berharap semoga segala hajat, keinginan, doa serta harapan mulia dari mbak-mbak semua bisa terwujud, dan semoga atas izin Gusti Allah, kita bisa mendengar kabar bahagia antar satu sama lain di masa yang akan datang.
Dilain sisi, saya juga berharap kiranya ilmu & semua kebaikan yang saya dapat selama ini, bukan hanya bisa memberi dampak positif bagi saya. Tapi, semoga bisa juga saya tiru dan saya bagikan bagi orang sekitar, termasuk untuk mereka yang akan bertemu dengan saya di masa mendatang, baik itu di Taiwan maupun saat balik ke Indonesia.
Xie-xie ni Bu Rahma, Ce Sulis, Ce Ika, Ce Enny, Ce Hety, Ce Iren, para staff PT Surabaya, serta terkhusus juga buat Ibuk (Bu Ester), terima kasih juga untuk mbak-mbak semua, yang tentu namanya tidak bisa saya sebut-satu persatu, karena saking banyaknya, entah itu yang saya temui di Tulungagung, Surabaya, Hongkong maupun di Taiwan.
Thanks a lot & may we always meet good people and learn from others anywhere🙏♡
(Indonesia-Hongkong-Taiwan)
(Editing foto Taiwan-Changhua)


















Komentar