I Er San Kaishe (Indonesia-Taiwan) Vol II



 种瓜得瓜,种豆得豆 

(zhòng guā dé guā, zhòng dòu dé dòu)

 Menanam labu akan memanen labu, menanam kedelai akan memanen kedelai. Pepatah ini sama dengan pepatah dalam bahasa Indonesia: “Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai.”



Indonesia-Hongkong-Taiwan 

5 April 2026


Finally the day is come,
Hari penerbangan saya ke Taiwan akhirnya datang.
Untuk pertama kali, dan hanya sendirian, saya diharuskan naik pesawat, lalu transit di beberapa negara
dan harus mendatangi sekitar 4 bandara.

(Foto tiket pesawat + foto saat di dalam pesawat Cathay Pacific)


Is it make me afraid?
Obviously yes. But again. I would say
"I er san kaishe", mau tidak mau saya harus tetap bisa memulainya.

Penerbangan perdana harus saya mulai dari Bandara Juanda di Surabaya.
Di sini saya menggunakan pesawat Batik Air tujuan Jakarta yang akan berangkat sore hari pukul 16.25, dan akan sampai di tempat tujuan pada malam hari saat magrib pukul 17.55.

Gladly, saya berhasil sampai dengan selamat dan mendarat dengan kondisi yang sangat baik.

Fyi, di bandara ini saya ditolong oleh seseorang yang mau ke Batam, beliau dengan baik hati mengantarkan saya mulai dari akan masuk pesawat, saat pengambilan bagasi, saat mencari lokasi kalayang sampai saat mau pindah ke Terminal 3 untuk penerbangan selanjutnya.


(Foto pesawat di Bandara saat akan menuju Jakarta)


Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, saya masih diharuskan menunggu pesawat Chatay Pacific sekitar 6 jam. Karena pesawat berikutnya akan terbang keesokan harinya jam 12 malam lebih 5 menit (tgl 6 April).


For honest review, i think this plane is quite big, lot of peoples who wanna go to East Asian Country choose to booked this plane.

Beberapa kali saya tanya, dan amati, orang-orang yang menggunakan pesawat ini dari Indonesia memiliki tujuan akhir ke beberapa negara Asia Timur seperti Hongkong, Taiwan & Jepang.

The service also good, budaya disiplin orang Asia Timur tercermin dari cara crew pesawat melayani para penumpang.

Ada satu momen saat mereka membagikan makanan untuk penumpang, dalam hitungan beberapa menit saja, segelintir crew ini kembali mendatangi penumpang untuk meminta sampah makanan yang sudah dimakan.

"Any Trash..?"
Beginilah kiranya salah satu pertanyaan yang mereka lontarkan sembari membawa kantong plastik berisi sampah.

Sekitar pukul 6 pagi waktu Hongkong, atau jam 5-an waktu Indonesia, saya akhirnya sampai di bandara Internasional Hongkong.
Just being honest, this one truly challenging.
Karena jadwal transit sedemikian rupa, saya harus cepat-cepat check in ke pesawat Cathay Pasific lagi, tapi kali ini beda gate.

Saya harus "berpeluh-peluh" menemukan lokasi check in pemeriksaan tiket dan paspor, belum lagi harus menunggu antrian panjang, dan menemukan gate pesawat saya yang baru muncul beberapa menit setelah kedatangan saya di Bandara Hongkong ini.

"Where i can find this one?" Tanya saya ke salah satu petugas cewek berseragam warna merah di gate pintu pesawat sambil menunjukkan tiket saya.
"Right there" jawabnya setelah mengecek HP, sembari menunjuk arah lurus di kejauhan.

Sontak setelahnya, saya langsung buru-buru berlari ke arah tersebut.
Untuk memastikan arah itu benar, saya kembali bertanya ke petugas lain yang menggunakan seragam formal warna putih.
Sayangnya setelah saya tanyai, dia malah nampak bingung, karena di waktu yang sama dia juga sedang ditanya oleh segerombolan penumpang lain.

Akhirnya dikondisi yang sedemikian kalut, saya tetap berlari ke arah yang ditunjukan, sembari harap-harap cemas kalau ketinggalan pesawat, but again syukurnya  finally i found it. Saya masuk gate pesawat saat antrian sudah nampak sepi.
But its ok, most important that im not late to come inside the plane.

"There we go"

Setelah masuk pesawat, saya langsung duduk sesuai nomor tempat duduk tiket.
If i can tell you, i feel so "fangsin"/"relieved" cause finally i did it, will tell u again " I DID IT" by my own.
And this we are, wo gonna fly to Taiwan.

Sesampainya di Taiwan, setelah keluar dari pesawat, saya diharuskan berkumpul dengan rekan-rekan lain sesama Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Sekelompok perwakilan orang yang bekerja di Depnaker Taiwan akan menemui kami dan menghandle segelintir kegiatan.
Mulai dari pengambilan bagasi, penuturan informasi sampai pengantaran ke lokasi penampungan pekerja migran atau yang biasa disebut gedung One Stop Service Center.



(Gedung One Stop Service - cr : Taiwan news)


Jujurly i think koordinasi yang dilakukan sangat terstruktur, PMI yang baru tiba di Taiwan juga dicek secara berkala, baik itu dari segi kelengkapan dokumen sampai kondisi tubuh masing-masing orang.

Sesuai aturan yang berlaku, PMI yang baru tiba harus stay di penampungan selama sekitar 3 hari 2 malam.

Di sini, para PMI akan menerima segelintir informasi soal aturan hukum dan budaya Taiwan, sosialisasi soal dokumen & pekerjaan di Taiwan, serta soal beberapa info lainnya.

Aturan disiplin juga mulai diberlakukan di gedung ini, apalagi soal ketepatan waktu, kebersihan lingkungan, serta tanggung jawab pribadi.

Seperti salah satunya, soal pemisahan sampah yang kita miliki.
Sisa makanan seperti plastik, karet, sumpit,  sampai kemasan bekas makanan harus diletakkan secara terpisah (fenkai), ini hal yang harus selalu kami lakukan setelah selesai selesai makan.

Proses medikal check-up (MCU) juga dilakukan dengan cepat dan efisien, setiap PMI diharuskan mengikuti peraturan dengan cepat dan runtut.



(On our way with Bapak Sopir)


Mulai dari pengumpulan dokumen, pemeriksaan tinja, rontgen, pengambilan darah dan lainnya dilakukan dengan sangat cepat di rumah sakit yang kami tuju.
Selesai MCU, kami dikirim oleh pak sopir ke agensi masing-masing, dan setelahnya kami langsung diantar ke rumah masing-masing majikan.

Just being honest, i feel so nervous about this.
This time i just can pray from my deepest heart that i will get good "laopan/kucu/shien-shen/thai-thai/ama".
Again, all i can do this time only pray and pray to Allah SWT.

Secara kebetulan, letak tempat kerja saya di Changhua City. Kalau melihat peta Taiwan, daerah ini ada di tengah-tengah, dan jarakanya sekitar 2 jam an lebih dari Taipei selaku pusat kota di Taiwan.

Perjalanan saya ke rumah majikan ditemani oleh perwakilan agensi dan satu orang lagi dari Taiwan.

Day one cai ama te cia, sekeluarga menyambut saya, pihak agensi dan perwakilan Depnaker dengan ramah.

Termasuk Ama, beliau menyambut saya dengan wajah yang sangat sumringah, keluarganya yang lain pun dengan sigap menyambut saya.


(Kondisi sekitar rumah Ama di Changhua City)




Beberapa kali saya lihat perwakilan agensi dan thai-thai banyak berbincang, mereka membicarakan soal kontrak kerja, job desk yang perlu saya lakukan setiap hari dan menanyai saya beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan pekerjaan dan hal pribadi.

Hari-hari berikutnya, saya secara silih berganti diberi thai-thai saya berbagai barang, makanan, buah, peralatan mandi, obat-obatan sampai baju.

Barusan (13/4) Thai-thai yang jarang ke sini juga akhirnya berkunjung lagi, beliau membawa segelintir barang dan makanan Indonesia untuk saya.

Salah satu Thai-thai yang tinggal diluar negri dan menikah dengan bule juga memberitahu saya lewat Line, dia mengatakan kalau saya tidak perlu khawatir soal makanan Indonesia, karena mereka akan membelikan saya setiap kali makanan itu habis.



(Foto beberapa makanan + barang pemberian Thai-Thai)



"Tamen hen hao" itulah pikiran saya soal mereka,  i feel so glad that i can meet them, and i also feel so glad about many things here.

Ama juga perlahan-lahan sudah mulai akrab dengan saya, beberap kali kami saling bercanda meskipun dengan bahasa Mandarin yang masih sangat terbatas.


(Motor biru cai ama te cia)


"Ni yao?" Tanyanya ke saya. Artinya kamu mau? Tanya Ama sembari menunjuk motor biru di depan saya.


Ni yao, juga menjadi pertanyaan yang paling sering ama lontarkan saat menawari saya makanan atau barang-barang lainnya.

Kemarin saya juga sempat membantunya memilah beberapa baju dari plastik-plastik besar.
Satu per satu baju saya lipat & Ama tinggal memilih.
"Kan hao, kei ni" tuturnya sembari tersenyum.
Kalau tidak salah artinya, "kelihatan bagus, buat kamu saja."

Saya juga sempat menanyai ama soal tanaman di belakang rumahnya.
"Nakek pale ma?" Artinya "Apa itu jambu biji ?"
"Ni yao? Ni na." Jawabnya.
Ama bilang iya, dia juga bilang kalau saya mau, bisa mengambil dan memakannya.

Saya, Ama dan salah satu anaknya juga sempat berkunjung berbincang dan bercanda bersama,
Dengan bahasa yang masih minim Ama cerita ke anaknya soal makanan "To Hua" atau kembang tahu yang kemarin saya makan, seharusnya makanan itu saya makan kondisi dingin, tapi malah dipanasi dan terasa sedikit "aneh" saat saya makan.

Banyak juga kejadian familiar lainnya yang terjadi antara saya, Ama dan thai-thai selama sekitar semingguan saya di sini.

Semoga kebaikan, kebahagiaan, serta momen heartwarming semacam ini bisa terus berlanjut sampai saya habis kontrak nanti.

Bersambung~




























(Beberpa foto selama di penampungan & rumah Ama di changhua County)



























Komentar

Postingan Populer