Indonesia-Taiwan (Rénshēng)
妇女能顶半边天
(Fùnǚ néng dǐng bànbiāntiān.)
“Wanita memegang separuh langit"
- Mao Ze Dong-
Beberapa hari lalu, saya melihat segelintir orang, termasuk mbak-mbak di PT mengunggah sejumlah postingan terkait Hari Kartini.
Tapi kali ini, yang saya mau bahas bukan soal Kartininya, di mana kalau yang satu ini pasti tau. Beliau itu salah satu pahlawan yang sangat famous di Indonesia.
Saya menyoroti tagline yang sempat tertera di postingan story, alias tulisan yang tertulis di bagian spanduk postingan mbak-mbak PT tadi.
"Kartini merantau, perempuan berdaya mendunia."
Foto ini tertulis di atas sebuah gambar siluet perempuan bersanggul membawa tas seperti koper dan sebuah paspor ditangannya.
Jelas, jika dilihat dari sisi kondisi, gambar itu sangat cocok disandingkan dengan kondisi saya dan mbak-mbak PT yang sudah atau masih akan berangkat untuk bekerja di negara tujuan.
Tapi saya akan mencoba mengulik sisi atau POV (Point of view) dari realita yang saya pribadi alami dan mbak-mbak PT ini alami selaku PMI (Pekerja Migran Indonesia) di luar negri.
Saya pribadi sedari awal di PT hidup berdampingan dengan mbak-mbak dengan latar belakang yang berbeda, ada yang sudah menikah, ada yang masih lajang, ada juga yang mengalami nasib kurang beruntung dalam rumah tangga mereka, alias telah bercerai atau ditinggal mati.
Dari mulai kegiatan pembelajaran di kelas, istirahat atau tidur di bagian kamar PMI, piket keseharian sampai makan, secara bersama kami lakukan selama berbulan-bulan.
Kegiatan yang kami lakukan bersama membuat saya berkesempatan bercengkrama dengan beberapa dari mereka.
Tentu saja, selaku PMI obrolan kami selalu tidak jauh dari alasan kenapa memutuskan untuk kerja keluar negri, seperti ke Taiwan, Hongkong dan Malaysia.
1. Contoh pertama, bilang saja mbak AD. Dia mengalami perceraian dengan suaminya, beliau memiliki beberapa anak dengan jenjang pendidikan yang berbeda, yakni tingkat Perguruan Tinggi dan Sekolah Dasar.
Kami sering bersama, berinteraksi bersama, bahkan bisa dikatakan saya sudah menganggap mbak AD ini seperti keluarga sendiri.
Dari keseharian kami berinteraksi selama sekian bulan, saya jadi mengetahui kalau alasan utama dia bekerja keluar negri karena faktor masa depan anak-anaknya yang masih bersekolah. Jelas mereka masih memerlukan uang yang banyak, dan menurutnya di usianya yang sudah menginjak diatas kepala 3, bekerja menjadi PMI masih menjadi pilihan terbaik sejauh ini.
2. Ada juga Mbak F1, usianya juga di atas kepala 3. Bisa dikatakan kondisi rumah tangganya dengan mantan suami sangat parah, ini yang membuatnya memutuskan untuk bercerai dengan ayah dari anak-anaknya.
Dari ceritanya, saya mengetahui kalau dia pernah menjadi korban KDRT (Keker4san di rumah). Alasan utamanya kerja jadi PMI juga karena faktor masa depan anak-anaknya yang masih perlu banyak biaya.
3. Saya juga pernah mendengar kisah mbak DN, dia masih sangat muda. Dari segi fisik dia masih seperti anak kuliahan.
Bisa dikatakan sebenarnya keluarganya cukup berada, tapi sayangnya suaminya terjerat Judol (Judi online) dan punya hutang dengan nominal jutaan yang sangat banyak. Saya sebenarnya secara pribadi tidak pernah berbicara dengan mbak DN ini secara langsung, tapi dari kisahnya saya yakin, baik saya sendiri termasuk kalian yang baca tulisan ini pasti tau alasannya kenapa memilih jadi PMI.
4. Saya juga kenal mbak N2, bisa dibilang kondisi yang dialami mbak N2 ini mirip dengan saya, masih muda dan belum banyak pengalaman.
Kebetulan mbak N2 memiliki riwayat pendidikan yang bagus, job sebelumnya yang dia jalani juga lumayan.
Kami pernah berbincang-bincang sampai larut malam, hampir dini hari malah. Jujur deeptalk yang kami lalukan waktu itu langsung mengena buat saya. Dari ceritanya saya menyimpulkan jika keluarga, yakni Ibu dan dua adiknya menjadi alasan kuatnya memilih untuk jadi PMI. Dilain sisi dia juga ingin mempersiapkan masa depannya supaya bisa lebih baik lagi.
5. Ada juga mbak IS, kebetulan saya bertemu dengan dia saat sudah di gedung penampungan PMI di Taiwan di kota Taoyuen.
Asal daerah mbak IS ini sebenarnya tidak jauh dari kampung halaman saya di Jawa Timur.
Dia juga masih muda dan cantik, dia berkata kalau lagi-lagi faktor rumah tangga yang memburuk menjadi alasannya pengen kembali jadi PMI, dia bilang pernikahannya yang sudah berjalan sekian tahun hanya memberi luka untuknya, dia juga korban KDRT dari suaminya.
Mbak IS sempat bercerita, prosesnya selama di PT pernah dipersulit oleh suaminya yang sebenernya tidak menyetujuinya kerja di luar negri.
Saking traumanya, dia sampai bilang begini "aku nyesel rabi." Atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah "Aku menyesal menikah."
Katanya, suami yang seharusnya dia jadikan sebagai tempat pulang dan tempat ternyaman, malah jauh dari harapan. Dia tidak mendapatkan kasih sayang yang sudah lama diidamkan. Hal ini membuatnya nekat kembali kerja ke Taiwan dan berpisah dengan anaknya yang masih kecil.
Saking bahagianya dia di Taiwan, dia sampai bilang begini. "Aku muni tak mbalek kerjo nang negaraku Taiwan." Tuturnya saat cerita soal kehidupan pribadinya di penampungan awal April lalu.
Sayang sekali, saya tidak bisa berbincang maupun berbicara secara intens dengan satu per satu mbak-mbak CPMI atau PMI yang saya temui di PT maupun di Taiwan. Padahal saya yakin, masing-masing dari kisah mereka pasti punya cerita yang bisa saya jadikan pelajaran.
Saya hanya menarik kesimpulan, keluarga masih menjadi faktor utama para "wanita hebat" ini pilih kenapa sampai harus merantau keluar negri.
Dari yang muda usia 20-an awal, sampai usia menginjak 50-an ada semua di PT, saya menemui mereka memiliki rentang usia yang berbeda-beda dan dengan latar kehidupan yang berbeda juga.
(Informasi terkait jumlah PMI wanita dari web resmi KEMENKEU per tahun 2024-2025)
Is that great? Obviously, saya pribadi sangat mengapresiasi dan menghargai niat mulia masing-masing dari mereka semua.
Karena tujuan mulia kalian, njenengan semua mau berkorban pisah dari keluarga, pisah dari suami atau anak selama sekian tahun dengan bekerja di luar negri, di negara orang, dengan budaya, sifat dan bahasa yang berbeda, untuk memperbaiki kondisi perekonomian keluarga dan masa depan pribadi.
Jika berbicara soal realita, kondisi keluarga saya juga didominasi oleh wanita, mereka yang bekerja dan aktif berperan di rumah saya juga rata-rata di handle oleh wanita, baik itu oleh mbak saya, bude saya, mbak keponakan saya sampai mbah wedok saya.
Dalam keluarga majikan saya pun sama, Ama yang saya rawat punya beberapa anak, 3 diantaranya anak perempuan yang kebetulan pekerja karir semua.
Mereka yang menghandle kondisi rumah dan kebutuhan saya, laopan serta Ama. Secara bergantian setiap hari mereka harus ke rumah Ama untuk mengecek kondisi saya dan Ama.
Mereka juga yang "mengajari" saya selama di sini, mulai dari perihal masak, bersih-bersih, soal bahasa sampai soal pengurusan gaji dan dokumen pribadi saya.
Saya pikir itu kenapa, pepatah dari Mao Ze Dong bukan cuman omongan belaka,
"妇女能顶半边天
(Fùnǚ néng dǐng bànbiāntiān.)
“Wanita memegang separuh langit"
Saya mengartikan langit sebagai representasi dari keluarga. Peran wanita sangat luar biasa bagi masa depan masing-masing keluarga mereka.
Dari mereka kondisi keluarga bisa jauh lebih baik, tanpa mereka kondisi keluarga juga bisa memburuk.
Im surely have no words, you guys are amazing. Saya pribadi selaku anak muda yang masih serba kurang ini merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan mbak-mbak ini selama di PT.
Saya hanya bisa mendoakan, semoga keinginan dan harapan serta doa mulia njenengan semua bisa tercapai satu persatu secara bergantian.
Dan semoga kalian bisa menjadi bagian dari Kartini versi kalian sendiri, yang terkenal akan kalimatnya "habis gelap terbitlah terang" atau, dalam kasus ini bisa juga dimaknai semoga dengan pilihan kalian sebagai PMI diluar negri bisa membawa "keterpurukan menjadi kejayaan" bagi keluarga njenengan semua, terutama dalam hal ekonomi. Amin.





Komentar