INDONESIA-TAIWAN (Rénshēng) PART 2
"Sifat manusia itu sama yang membedakan adalah kebiasaan mereka"Konfusius/Kong Qiu
Kalau bicara soal negara paling disiplin, serba bersih dan maju di Asia, pasti banyak orang akan menyebut Jepang, tapi menurut saya Taiwan juga cocok memegang predikat itu.
Dari awal saya menginjakkan kaki di Taiwan, saya sudah merasa jika provinsi ini cocok dijuluki sebagai mini Jepang.
Fyi, tidak semua negara mengakui jika Taiwan adalah sebuah "negara" secara de facto atau de jure, beberapa negara mengakui Taiwan masih menjadi bagian dari China ( ROC-Republik of China).
(Status Taiwan secara politik)
Terlepas dari status negaranya yang diperdebatkan, saya mau membahas soal beberapa budaya masyarakat Taiwan yang sangat mirip dengan Jepang, yang pertama yakni soal disiplin "tepat waktu".
Saat saya sudah tiba di rumah Ama, saya menyadari ada satu kebiasaan yang saya rasa jarang ditemui di Indonesia, yakni makan selalu tepat pada waktunya.
(Beberapa sajian menu yang saya & Ama masak)Sarapan biasa kami lakukan kurang lebih pukul 7 pagi, lalu makan siang sekitar jam 12.
Ada satu momen saat makan siang kami sudah siap, secara kebetulan jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 an lebih sedikit, Ama menyuruh saya untuk siap-siap segera mengambil makanan dan melakukan "u can/makan siang" atau Ciapeng.
Entah karena apa, kebetulan waktu itu Thai-thai yang paling muda belum datang. Lalu saat dia tiba di rumah, Ama seperti mengatakan sesuatu yang kurang lebih saya pahami intinya dia sedikit mengomel karena Thai-thai datangnya terlambat.
Pernah juga ada momen dengan Thai-thai pertama, makanan sudah ready semua dan tinggal kami santap. Tapi Ama mengatakan belum waktunya makan siang, karena waktu itu memang belum jam 12.
Intinya, all things have to on time. Tidak boleh terlalu cepat, dan tidak boleh juga lambat.
Begitu juga untuk makan malam, di sini kami biasa melakukan wan can sekitar jam 5-6 sore.
Masih sangat sore, bahkan kadang matahari masih terlihat terang di waktu seperti ini. Ama dan saya juga suka makan makanan ringan (ngemil ) atau 小吃 (xiǎochī) saat jam segini.
(A healthy xiǎochī ken "cao mei" & ping guo")
Dan lagi, saat akan melakukan makan, Ama juga selalu menyuruh saya memanggil anaknya yang biasa saya panggil "laopan" untuk segera makan.
Perihal tepat waktu juga sudah pernah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, saat di penampungan aturan tepat waktu juga diberlakukan.
Itu semua dipraktekkan lewat kegiatan kami mulai dari kegiatan pembekalan, makan, sampai pemberangkatan ke tempat Medical Check Up (MCU) dan pengantaran ke agensi masing-masing.
Kebiasaan berikutnya yakni tidur siang atau bahasa mandarinnya adalah 午觉 (wǔjiào) atau 午睡 (wǔshuì). Awalnya saya pikir tidur siang itu hanya dilakukan di beberapa negara seperti Jepang dan China, tapi ternyata di Taiwan juga.
Hal ini saya sadari karena Ama kerap kali melakukan tidur siang, Sebelumnya saya pikir itu mungkin karena Ama lelah, tapi setelah sekian Minggu saya menyadari jika ini sudah menjadi kebiasaan harian Ama.
Saya juga ingat, Thai-thai pertama pernah juga menyuruh saya melakukan tidur siang, setelah saya selesai masak & makan siang.
Lalu, saya juga pernah mendapat kabar dari mbak-mbak PMI (Pekerja Migran Indonesia) lain, kalau dia juga mendapatkan jatah tidur siang sekitar 2 jam-an setelah makan siang juga.
Dan ternyata bukan hanya di rumah, kebiasaan tidur siang ini juga diberlakukan di lingkungan sekolah dan lingkungan kerja di Taiwan.
Kalau dilihat dari sisi historis, sebenarnya masuk akal juga jika negara ini sangat mirip dengan Jepang, barangkali ini merupakan salah satu budaya yang memang diajarkan oleh Jepang.
Karena Jepang sendiri ternyata pernah menjajah Taiwan (dulunya bernama Formosa) selama sekitar 50 tahun, dari sini budaya Jepang juga ikut tersebar di seantero penjuru Taiwan. Pun mungkin termasuk kebiasaan mereka soal disiplin waktu dan tidur siang.




.jpg)
.jpg)





Komentar