Indonesia-Taiwan (Shuǐguǒ & Dòngwù) Part II

 



Kapan hari saya pernah membahas di tulisan sebelumnya, rumah Ama memiliki banyak sekali tanaman tropis yang mirip sekali dengan beberapa tanamaman buah seperti di Indonesia, misalnya Markisa, Jambu Biji, Pepaya sampai Sawo Kenitu. 

Selain aneka perbuahan di atas, rumah Ama juga memiliki sisi bangunan yang menyerupai Peternakan. 

(Video salah satu sisi bagian luar rumah Ama yang mirip peternakan)


Anjing, Ayam, Ikan, Angsa, Burung menjadi beberapa penghuni di rumah Ama. 

Mereka juga bukan hanya terdiri dari satu spesies, seperti Ikan misalnya. 

Ada ikan di akuarium rumah Ama, ada juga ikan di sisi luar. Mungkin kalau di daerah saya menyebutnya dengan istilah iwak cetol. Bentuknya sangat kecil, dan biasa saya temui di selokan atau sungai di dekat rumah saya. 



(Foto ikan dan anjing di rumah & di sekitar rumah Ama)

Selain itu saya ingat, pertama kali saat saya datang di rumah Ama. Ada beberapa anjing yang menyambut saya. 

Dan seperti yang saya katakan ditulisan sebelumnya, mereka terbiasa dipanggil dengan sebutan "koko".  Mereka juga terdiri dari beberapa warna, hitam-putih, hitam, coklat  dan sebagainya.

Waktu itu saya ingat, Thai-Thai yang paling muda menyuruh saya memberi makan anjing-anjing tadi.  Tujuannya supaya mereka cepat akrab dan mengenal saya. Dan benar saja, baru beberapa hari di sini mereka langsung terbiasa dengan kehadiran saya. 

Jumlah hewan lain seperti ayam juga tak kalah banyak, ada yang terlihat seperti ayam jago, ayam hitam, ayam kampung dan ayam-ayaman lainnya. 

Waktu pertama kali saya datang ke sini, salah satu Thai-Thai juga sempat menanyai saya lewat penerjemah.  "Apa kamu bisa menyembelih ayam?" Tanyanya pertama kali. Dengan jujur saya berkata tidak, karena kenyataanya memang tidak bisa. 

Akan tetapi, di sini memang sangat sering masak ayam. Kalau dihitung, hampir tiap hari saya makan ayam, baik Ama atau Thai-Thai hampir selalu menambahkan "ciangyou/kecap asin" di setiap masakan ayam yang kami masak. 

Fyi, kecap asin dan jahe, menjadi 2 varian bumbu yang tidak pernah terlepas saat masak ayam. Saya tahu betul hal ini karena beberap kali Ama menyuruh saya masak ayam sembari ditemani beliau. 

Saat masak Ama juga sempat mengatakan jahe dalam bahasa hokkien, yakni "kiun", sedangkan dalam bahasa Mandarin jahe biasa disebut dengan istilah "ciang". 

Selain Ayam, ada juga angsa atau entog. Jumlahnya tidak kalah banyak dari jumlah ayam disekitar sini. 


(Angsa / entog dibelakang rumah Ama)

Telur-telur dari Ayam dan Entog juga bisa dikatakan tiap hari saya konsumsi bersama Ama dan laopan.

Selain itu, aneka perburungan juga ada. 
Saya melihat ada banyak sekali burung Kakak Tua di sini, jumlahnya tidak hanya 1 atau 2 ekor saja, sepertinya ada 10 lebih. 

Selain itu ada burung dara, jumlahnya lebih dari 15, kalau dihitung keberadaan burung ini yang paling banyak dari semua jenis burung lainnya.

Selain itu, ada juga 2 burung kakak tua besar di depan rumah Ama, mereka juga bisa menirukan suara orang disekitarnya. 

(2 burung Kakak Tua besar di depan rumah Ama)


Saya juga pernah bilang ke ama,
"Ta kheyi ciang Ama." "Dia (burung Kakak Tua) bisa ngomong Ama." 
Seketika Ama berkata sesuatu, kalau ditelinga saya terdengar seperti kata "Alamoo,,,,,,Alamooooo," ungkap Ama agar ditirukan burung tersebut.  
Tapi sayangnya waktu itu mungkin dia sedang malas bicara, karena tidak ada sepatah katapun yang keluar dari paruh mereka.

"Cinthien meyo ciang," Artinya hari ini nggak mau ngomong. Tutur Ama ke saya.
"Iya Ama." Jawab saya singkat. 

Di tempat lain, saya juga sempat melihat hewan melata sejenis siput yang umumnya bisa dikonsumsi di Indonesia, seperti bekicot dan keong sawah.

Di bawah kandang burung Kakak Tua tadi, ada beberapa tanaman yang familiar di Indonesia, seperti bunga sepatu, bunga melati, beberapa bunga lain dan sejenis pohon jeruk. 

"Kamm-a" ucap Ama ke saya. 
Dia mengatakan jika nama tanaman jeruk itu Kamm-a. 

Setelah saya cari artinya di google, saya jadi tau kalau kam-a itu istilah untuk jeruk Ponkam dalam bahasa Mandarin. 

Kamm-a sendiri merupakan bahasa Hokkien. Sepengetahuan saya, jeruk ini termasuk salah satu jeruk premium di Taiwan, teksturnya lembut, manis, berair dan mudah dikupas.

Tapi kebetulan Jeruk Ponkam yang ditanam di depan rumah Ama ini belum berbuah, kalau dari kondisi tanamannya juga sepertinya pohon jeruk ini itu hasil stek-an yang ditanam di pot. 

Bersambung~


(2 Anjing di bawah pohon bunga Melati di depan rumah Ama)




Komentar

Postingan Populer