Indonesia-Taiwan (Shuǐguǒ & Dòngwù)
有缘千里来相会
(Yǒu yuán qiān lǐ lái xiāng huì)
Takdir mempertemukan orang-orang, tak peduli seberapa jauh jarak mereka
Taiwan, April 2026
Saat pertama kali datang ke rumah Ama di Changhua City, saya menyadari, disekitar rumah beliau ada beberapa bagian yang terlihat bukan seperti rumah pada umumnya.
Atap langit-langit yang tinggi, bekas karung di mana-mana, pipa-pipa besar, beberapa meja, selang dan keberadaan beberapa mesin besar, kiranya cukup menggambarkan jika ini dulunya seperti pabrik.
(Foto beberapa kondisi disekitar rumah Ama di Changhua City)
Selain itu di bagian kanan rumah Ama, terlihat seperti peternakan, banyak ayam, burung, angsa, Anjing, dan beberapa hewan lainnya yang lalu lalang disekitar rumah ama.
Banyak anjing juga di sini, mereka biasa memanggil hewan-hewan ini dengan sebutan "ko-ko", is it sound weird, is not it?,
Kalau di Indonesia, koko biasa dipakai untuk sebutan pria di keluarga keturunan Cindo (Cina-Indonesia), tapi di Taiwan sendiri sebutan ini digunakan untuk memanggil anjing.
Rumah ama sendiri lumayan besar, dan memiliki 3 lantai.
Kalau melihat kondisi selama sekitar seminggu terakhir, saya menyadari kalau tidak hanya Ama dan anaknya yang tinggal di sini, tapi di lantai 2 sepertinya ada kerabat Ama yang tinggal di sana.
Beliau jarang keluar rumah, saya juga tidak setiap hari bertemu beliau, akan tetapi saya bisa mendengar saat dia menutup atau membuka pintu, dan saat naik atau turun dari lantai 2.
Pernah suatu ketika, saya bertanya ke Ama,
"Ta shei ama?" Artinya, "Dia siapa ama?"
Seingat saya, ama menjawab "Siao Thai", mungkin maksudnya "nyonya kecil", atau mungkin dalam bahasa Jawa bisa dimaknai dengan kata mak cilik.
Di sisi lain rumah ini sebelah kiri rumah ini, juga terdapat bapak-bapak dan beberapa anggota keluarganya, tapi mereka tidak setiap hari ada di rumah.
Hal ini saya sadari saat melakukan "sanpu/jalan-jalan" dengan Ama lewat depan rumahnya, dan lampu teras rumah beliau terlihat menyala terus selama beberapa hari, pun termasuk saat siang hari.
Selain itu, pernah juga suatu ketika saat saya membersihkan barang-barang milik Thai-thai, seorang cewek muda mendatangi saya.
Awalnya saya pikir, dia mbak-mbak Cindo, karena secara fisik dia memiliki kulit yang putih dan bermata sipit ciri khas orang oriental.
Dia mendatangi saya, dan seketika langsung mengatakan beberapa kalimat menggunakan bahasa mandarin.
Jujur, saya tidak paham beberapa kalimat yang dia sampaikan.
Tapi ada kata "inni" yang saya pahami. Yang artinya orang Indonesia.
Setelah beberapa menit, dia keluar rumah, saya lalu menyempatkan mendatanginya, dan kembali bertanya kepada mbak-mbak tadi.
"Where u from?" Tanya saya.
"Im from Vietnam" Jawabnya singkat.
"U work here?" Tanya saya kembali karena penasaran.
Lalu mbak-mbak tadi seperti mengatakan sesuatu dan gestur yang saya pikir sebagai jawaban "tidak".
Saya juga ngeh, setiap kali mbak-mbak ini ke sini, selalu menggunakan montor, dan dia jarang sekali terlihat lama datang ke rumah kerabat Ama ini.
Kalau di logika, tidak mungkin seorang Pembantu Rumah Tangga (PRT) bisa keluar masuk rumah majikan menggunakan motor hampir tiap hari, dan hanya berkunjung selama beberapa jam.
Dia tanya lagi ke saya.
"Ama?"
Saya jawab, "Tue, wo cauku Ama." Jawab saya singkat.
Lalu setelah itu pembicaraan kami berakhir karena beberapa anjing mengonggong dan mendekati saya.
(Taiwan-15/4/2026)
Ama mengajak saya berkeliling sekitar rumah, lalu kami menuju bagian pekarangan di samping dan belakang rumah.
Dari pengamatan saya, beberapa buah ini sangat familiar untuk orang Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Ama menyebut satu per satu buah menggunakan bahasa Mandarin, mulai dari Pisang atau Siang Ciao.
Lalu Buah Naga atau Ho Long Kuo, Pepaya atau Mukua, ama menyebut bahasa Mandarin dari beberapa buah ini.
(Foto beberapa buah-buahan tropis seperti di Indonesia, seperti pohon pepaya, pohon buah naga, pohon buah markisa, dll)
"Nakek Pai Siang Kuo," tutur saya. Ama menunjukkan gestur seperti mengiyakan sembari tersenyum.
Ini salah satu benefit dan keuntungan yang saya dapat selama di PT, buah dari hafalan yang sudah saya lakukan di Tulungagung dan Surabaya, saya jadi ingat beberapa nama dalam bahasa Mandarin dari beberapa barang, makanan, sampai nama buah di sini. Dan hal ini jelas menjadi salah satu keuntungan tersendiri, termasuk membuat komunikasi saya dengan Ama atau keluarga Ama menjadi lebih lancar, dan kami jadi bisa lebih cepat akrab. Lalu kami melanjutkan jalan-jalan ke sisi belakang rumah Ama.
Di bagian ini terdapat buah, buahan lain yang tak kalah banyak. Termasuk buah-buah yang juga secara kebetulan banyak ditanam di Indonesia. Seperti belimbing, durian, kelengkeng, jambu biji, nangka dan Anggur Brazil.
Kebetulan saat kami ke bagian belakang rumah, ada satu tanaman buah yang terlihat sudah bisa dimakan.
Ama menyuruh saya mengambil buah tersebut dari pohonnya. Kalau dideskripsikan, buah ini terlihat bundar dan berwarna ungu seperti anggur.
Seketika saya mendekat ke tanaman tersebut dan memetiknya, lalu langsung mencoba buah itu.
Manis dan sedikit asam, menjadi perpaduan rasa dari buah ini. Jika Anggur yang biasa kita makan di Indonesia hanya terasa manis, sedangkan buah ini terasa manis, tapi ada asamnya sedikit.
Dari segi ketebalan daging buahnya pun berbeda, buah ini lebih tebal dan memiliki ukuran isi lebih besar juga.
Lalu, Ama menyuruh saya mengambil wadah supaya bisa memetik buah ini lebih banyak dan menaruhnya di atas meja makan di dapur.
"Ini buah apa ya ?" Pikir saya saat pertama kali menyentuh buah itu, saya lalu tau nama buah ini setelah Thai-thai memberi tau saya apa namanya.
Yakni, "Shu Pu Tao" , Pu Tao sendiri kalau diartikan artinya anggur, dan buah ini memang sangat mirip anggur.
Setelah saya coba telusuri lewat google, saya baru tau kalau istilah buah ini adalah Anggur Brazil. Bedanya kalau anggur biasa tanamannya berbentuk menjalar, kalau Shu Pu Tao ini tanamannya berbatang.
Beberapa hari sebelumnya, saya juga sempat memakan buah seperti sawo di sini.
Warnanya hijau, dan rasanya sangat manis, saya sendiri langsung suka setelah mencoba makan buah itu untuk pertama kali. Warna buah ini akan terlihat hijau keputihan dan empuk saat matang.
Akhir-akhir ini saya mengetahui kalau nama buah ini adalah sawo kenitu atau sawo hijau seperti warna kulitnya, atau biasa disebut abiu di sini.
(Sawo hijau / sawo Kenitu/ abiu di dekat rumah Ama)
Kalau dipikir-pikir, kenapa ya banyak buah Indonesia yang ada di Taiwan? Apalagi di rumah Ama ini sudah mirip sekali dengan nuansa perumahan kebun milik orang indonesia.
Setelah saya lihat di internet, ternyata hal ini tidak terlepas dari peristiwa penjajahan di masa lampau.
Jepang yang waktu itu menjajah Taiwan tahun 1924, mendatangkan dan membudidayakan aneka buah tropis yang banyak berasal dari beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Filipina.
Sumber lain dari media Taiwan bernama RTI mengatakan kalau beberapa buah tropis di Taiwan juga ada yang didatangkan dari Indonesia, seperti jambu air pada abad ke-17.
Beberapa hal familiar seperti ini membuat saya merasa seperti di rumah sendiri, dan ini jelas juga membantu saya beradaptasi di sini, terutama soal makanan.
Saya pribadi meyakini, hal seperti ini bukan terjadi secara kebetulan. Tapi memang ada campur-tangan ilahi dibaliknya. Dan saya pribadi berharap hal ini bisa memberi dampak baik sekaligus membuka rejeki buat saya di masa depan.
Bersambung~
Referensi :
(Sumber RTI - https://www.rti.org.tw/id/news?uid=3&pid=7379 )






.jpg)






Komentar