INDONESIA-TAIWAN (Rénshēng) PART 3






Mei 2026, menjadi bulan ke-2 saya di Taiwan, jujur kadang saya masih merasa belum percaya kalau saya sudah tinggal di negara asal mbak Chou Tzu-yu ini.




Untuk tulisan kali ini, saya mau membahas soal Ama, nenek yang saya rawat di Taiwan. 


Kalau melihat informasi yang tertera di kontrak kerja yang saya dapat sebelum berangkat ke Taiwan. Nama Ama itu Chang Hsien Nan, beliau berusia 91 tahun dan alamatnya di daerah Changhua County


Kalau melihat kondisi Ama yang sudah hampir menyentuh 1 Abad, saya bisa mengatakan Ama ini fisiknya sangat sehat untuk ukuran orang seusianya, bahkan saya menilai kondisinya layaknya orang yang berusia 70-an.

Saya coba hitung usia Ama, jika tahun 2026 berusia 91 tahun. Ini berarti Ama lahir tahun 1934 atau tahun 1935. Hal ini juga berarti Ama lahir dan tumbuh di masa penjajahan Jepang di Taiwan sampai berusia sekitar 10 tahunan. 

 



Yang saya salut dari Ama, beliau ini masih aktif dan bugar. Sering juga Ama berjalan tanpa tongkat maupun alat bantu jalan lainnya. 


Pernah suatu ketika saat menemani saya masak, saya berinisiatif (chutong) mengambilkan alat bantu jalan miliknya, tapi dia berkata "meiyo kwansi" atau jika diartikan "nggak papa" dan lebih memilih untuk berdiri seperti biasa tanpa bantuan alat apapun. 

(Alat bantu jalan milik Ama)


Ama juga masih sehat secara ingatan, dalam artian tidak pikun atau mengalami demensia. Beberapa kali saat tengah mengerjakan sesuatu atau saat duduk, Ama mengingatkan saya seperti waktunya memasak nasi di "tien kuo", mengambilkan minuman nutrisi miliknya, atau mengingatkan hal lainnya. 


Selain itu, Ama juga sangat teliti. Contohnya saat saya masak, beliau beberapa kali mengingatkan saya untuk mencuci beberapa peralatan masak lebih dulu, meskipun peralatan yang saya buat masak tersebut sebenarnya juga dalam kondisi bersih karena sudah dicuci. 

Ama juga yang mengarahkan saya soal bumbu dan takaran sayuran yang akan saya masak, misal gula satu sendok, lada sedikit, minyak goreng beberapa mili, jahe diiris korek api dan sebagainya.

(Salah beberapa sajian masakan yang saya masak sesuai intruksi Ama)


"Thng Si a" ucapnya kepada saya setiap kali sayur berkuah yang saya masak akan selesai. 

Maksudnya, Thng Si a sendiri artinya sendok, beliau selalu menyuruh saya mencicipi setiap rasa masakan yang tengah saya masak. 

Hao che ma? Tanyanya kepada saya. Kalau saya menjawab Hao Che, Ama akan segera menyuruh saya memindahkan masakan tersebut ke wadah atau piring untuk disajikan, kalau belum Ama menyuruh saya menambahkan sedikit bumbu seperti garam atau gula untuk ditambahkan. 

Pernah suatu hari saat saya masak, saya tengah mencicipi masakan tersebut. Lalu intinya Ama berkata begini dalam bahasa Mandarin dicampur Hokkien

"Kalau menurutmu masakanmu enak kamu angkat makananya terus disajikan, kalau nggak enak tambah bumbunya". 

Ama juga tidak sungkan memberitau saya bahasa Mandarin atau bahasa Hokkien (Ta i) dari beberapa benda atau sayuran atau makanan di sekitar kami. 

Setidaknya saya menjadi tau beberapa bahasa Hokkien dari Ama, seperti; 


1. (B.Indonesia) Pesawat = (B. Mandarin) Feici = (B.Hokkien / Ta i) = Hue Heng Ki

2. (B.Indonesia) Daun Bawang = (B.Mandarin) Ta Cong = (B.Hokkien / Ta i)= Changa

3. (B.Indonesia) Jahe = (B. Mandarin) Ciang = (B.Hokkien / Ta i) Kiun. 

Dan sebagainya. 

Seperti sore tadi (30/4), saya dan Ama menonton TV (Kan Tiense) bersama, kebetulan acara yang kami tonton waktu itu soal reality show di tengah sawah. 

Acara tersebut menampilkan beberapa orang tengah berkunjung ke sawah dan memanen tanaman Kucai. 

(Tayangan reality show yang membahas soal Kucai)


Ama seketika berkata "Cekek Kú-chhài" sembari melihat TV, tuturnya dengan pelafalan yang fasih. Saya jadi turut menirukan Ama mengatakan Kú-chhài selama beberapa kali sampai terdengar benar di telinga Ama. Dari sini saya juga jadi tau, kalau nama Kucai dalam bahasa Indonesia memang diambil dari bahasa Hokkien.



Ama juga sangat peduli ke saya, saya pribadi juga sangat bersyukur atas hal ini. Ama memberi saya perhatian layaknya kepada cucunya sendiri. 


Misal pernah di suatu hari Ama mengajak saya untuk melakukan "sanpu" yakni keluar jalan-jalan di sekitar rumah.


Ama mengambil baju lengan panjang, padahal bajunya masih bersih dan beliau juga barusan nggak melakukan aktivitas mandi. 

Sontak saya sempat bingung kenapa Ama membawa baju tersebut, ternyata diluar cuacanya sangat panas, beliau jelas melakukan hal itu agar kulitnya nggak begitu keganggu sama sinar matahari yang lumayan menyengat.

Setelahnya Ama menanyai saya dengan bahasa Hokkien yang saya tidak mengerti, tapi pada akhirnya saya paham, kalau beliau menyuruh saya menggunakan baju lengan panjang juga supaya tidak kepanasan saat keluar rumah. 

Contoh lainnya, Ama juga sempat menghawatirkan saya kelaparan, karena kebetulan beras yang beliau suruh ke saya untuk dimasak pada hari itu menurutnya terlalu sedikit. Bahkan sampai-sampai supaya nggak kelaparan Ama menyuruh saya memasak misoa.

Saya waktu itu hanya bisa menjawab "Meiyo kwansi Ama" / "Nggak papa, Ama".

Jujur kondisi waktu itu saya juga nggak terlalu lapar, di tambah lagi di kulkas Ama tersedia banyak makanan yang bisa saya masak sewaktu-waktu. Seperti telur, sayur, daging, puding sampai buah ada semua, saya juga punya banyak persediaan makanan maupun jajanan pemberian dari Thai-Thai di meja samping lemari dan dikasur.

Gaya hidup Ama juga sangat sehat menurut saya, Ama terbiasa melakukan beberapa hal dengan tepat waktu dan hal ini juga sudah menjadi kebiasaannya. 

Misal, makan selalu tepat pada waktunya. Sesekali memang pernah lebih cepat atau lambat, tapi jarak waktunya tidak terlalu jauh.

Sarapan sekitar pukul 7 pagi, makan siang sekitar pukul 12 siang, dan makan malam sekitar jam 5 sore. 

Saya menemukan fakta baru yang unik di Taiwan, yang mana masyarakatnya memang suka melakukan makan malam, tapi pas masih sore hari.

 


Makanan yang dimakan Ama juga tidak terlalu banyak atau sedikit, takarannya pas. Contohnya selalu konsumsi sekitar 1 centong nasi setiap kali makan siang dan makan malam. Takaran gizi disetiap makanan Ama juga tercukupi, misal dengan 1 iris ayam, beberapa menu sayur dan memilih buah sebagai cemilan hariannya. Intinya setiap hari konsumsi Ama memenuhi standar gizi nasional Indonesia berupa menu 4 sehat 5 sempurna.

Hampir sebulan saya di sini, tidak pernah melihat Ama makan makanan atau minuman produksi pabrik. Kecuali minuman nutrisi kalengan yang setiap malam dia minum.

Ama juga aktif melakukan Sanpu, entah itu hanya sekali atau 2 kali perhari, dengan rentang waktu 20 menit sampai 1 jam an. Tergantung ada tidaknya orang yang beliau ajak untuk "berghibah" dalam bahasa Hokkien/ TA I.

Beberapa rutinitas di atas cukup menggambarkan kebiasaan disiplin serta gaya hidup sehat yang dilakukan Ama. Hal itu tentunya juga bisa menjadi hal penting yang bisa saya pelajari dan coba ikuti kedepannya.

Disela-sela kebiasaan kami melakukan sanpu pada siang hari, beberapa hari lalu secara kebetulan kami melakukan sanpu setelah makan malam/wan can, yakni sekitar pukul 6 sore. 

Saya sempat melakulan obrolan singkat dengan Ama di bawah langit sunset di dekat rumahnya. 

(Foto pemandangan langit sunset yang saya take di atas bangunan gereja didekat rumah Ama, terlihat juga pemandangan awan membentuk garis yang terlihat jelas nan atraktif -28/4)


 

"Ama Nakek hue heing ki", (Mbah, Kae lo pesawat) Tutur saya sembari melihat ke arah langit

"Inni, yo meiyo?" (Nang Indonesia enek ora?) Tanya Ama dengan suara pelan.

"Yo Ama." (Enek Mbah) Jawab saya ke Ama.

Just being honest, i feel so glad to experience this, and i feel so glad that i can meet Ama. What a wonderful moment it is. Hope i can learn many things from Ama till few years later♡




Komentar

Postingan Populer