RANDOM NOTES
One of my privilege sejauh ini yakni saya punya beberapa orang yang selalu bisa diajak untuk diskusi dari hal ringan sampai bahas soal topik berat. Biasanya diskusi itu saya mulai pake pertanyaan, minta saran, cerita atau lewat curhat.
Misal saya mau bahas topik soal hair cut atau hair styling, saya biasanya bakal banyak nanya ke keponakan saya ini, karena dia anak barbershop. Selain soal hair styling, saya juga kadang nanya soal informatika dan soal digital karena dia mantan anak SMK.
Topik lain misal saya mau bahas soal psikologi, retail atau ekonomi. Saya bakal bahas saman temen saya yang ini. Karena dia anak lulusan S1 Akuntansi dan lulusan SMK Akuntansi.
Contoh lain, misal saya mau bahas soal pendidikan, keuangan, psikologi saya kadang juga bakal tanya ke temen yang satu ini. Selain karena kami pernah kuliah bareng, dia juga secara pendidikan lebih tinggi dari saya dan pernah mengenyam pendidikan S2 dengan gelar Magister.
Hal itu biasa saya lakukan karena dalam banyak bidang saya sama sekali tidak menguasai, dan merasa sangat kurang karena memang belum pernah belajar secara formal atau informal di bidang tersebut.
Tapi, bukan berarti saya selalu melihat background pendidikan seseorang sebelum bertanya atau membahas suatu hal.
Karena saya meyakini tingkat pendidikan seseorang nggak bisa dijadiin patokan kalau orang itu "berkualitas" nggaknya. Pengalaman juga sering kali menjadi bukti akan kualitas dan kecerdasan dari seseorang.
Contohnya Ama saya di Taiwan sini,
"Wo meiyo tusu" katanya ke saya. Artinya "Saya nggak belajar (sekolah)".
Tapi saya juga tetap bertanya dan belajar banyak hal darinya. Setiap hari malah.
Saya juga banyak belajar dari setiap orang yang saya temui. Sekali lagi saya ulangi, dari "SETIAP ORANG" tanpa terkecuali. Termasuk saat saya masih stay di PT.
Anyway, Salah satu orang yang biasa saya ajak diskusi & "mikir bareng" itu kerabat saya. Ya, tapi karena kedekatan kami sejak kecil, ditambah lagi usia kami cuman berjarak 1 tahun. Saya 25 dan dia 26.
Inisialnya Mbak LM. Sebelumnya dia bilang maunya disebut pake nama "Luna" aja. Dia lulusan SMK salah satu sekolah di TA. Sekarang dah jadi istri dan ibu. Kemiripan saya dan dia, kita sama-sama lumayan aware soal isu tertentu yang ada di sekitar lingkungan kami.
Kami juga sama-sama kebetulan kerja di Taiwan, bedanya mbk LM kerja jalur formal dan saya informal.
Kebetulan sejak awal minggu lalu kami sempet chat-an lumayan lama. Dan secara kebetulan lagi ada banyak topik yang kami bahas.
I dunno how it started but obrolan kami mengalir dengan sangat baik.
Mulai dari ngobrolin soal Harry Potter, serba-serbi soal kehidupan di PT, masalah makanan di Taiwan, masalah adaptasi kerjaan di Taiwan dan lain-lain.
Sampai pada akhirnya ada momen saya cerita soal beberapa hal yang saya alami baik selama di Taiwan maupun saat akan terbang ke sini.
Lambat-laun, obrolan kami berubah. Yang mulanya kami hanya cerita-cerita, jadi momen "curhat".
Saya yang biasanya dengerin curhat dari orang sekitar, sekarang posisinya dibalik. Saya jadi yang didengerin.
Jujur, curhat ke orang lain itu juga nggak gampang. Butuh keberanian dan harus siap sama konsekuensinya.
Entah karena kesambet apa, yang jelas kemarin saya memberanikan diri curhat soal cerita hal sensitif ke mbak LN.
Secara garis besar saya cerita soal "hal yang selama ini saya alami dan rasakan". Saya secara blak-blakan bilang kalau saya nggak bisa ngerasain hal yang semestinya harus saya alami, dan saya ngerasain hal yang seharusnya nggak dialami normalnya perempuan.
Responsif, tidak judgmental dan sangat memahami. 3 kondisi yang bisa menggambarkan respon dari nya.
Keluarga mbak LM merupakan salah satu keluarga yang terpandang di daerahnya, mbahnya merupakan salah satu pendiri organisasi Islam. Selain itu kerabatnya juga didominasi orang religius yang berkecimpung di lingkungan agamis. Seperti pondok, TPQ dan tempat majlis ngaji.
Alih-alih memberi dalil atau menyeramahi saya, mbak LM langsung memahami saya dan memberi ruang bagi saya untuk melanjutkan curhatan saya.
Dia menanyakan lebih dulu soal "kesiapan dan kemauan" saya untuk bercerita lebih dalam.
Mungkin bagi sebagian orang ini terkesan sepele ya, tapi dalam keadaan curhat. Tindakan simple seperti ini mampu menunjukkan manner seseorang, rasa simpati seseorang dan mampu menunjukkan orang yang lagi curhat kalo sekaramg dia "dipahami / dimengerti". Dan ini juga menjadi salah satu cara menyentuh sisi "percaya dan nyaman" seseorang.
Mbak LM ini juga menjadi orang pertama di keluarga saya yang pada akhirnya saya kasih tau soal "rahasia pribadi" saya.
Dia juga sempet nanya, kenapa bisa sepercaya itu ?
And i just directly say , selain karena kita deket dari kecil, saya juga bilang kek gini ke dia "Karena saman nggak punya riwayat merusak kepercayaanku".
Anyway, for more info. Dari dulu kami kebiasaan ngobrol pake kata "saman" atau "sampean" atau orang lain juga biasa makenya kata pean. Kata ini juga biasa saya pake pas ngobrol sama orang lain, karena saya menghargai orang tersebut.
Oh gosh, just being honest i truly appreciate to people who can understand me and to every person who can keep my trust to them.
Oh come on, that so deep.
Just being honest, mbak LM ini juga type orang yang bisa ngasih respon baik. Kalau dibilang, pas lagi curhat. Nggak cuman disimak, tapi dia juga selalu berusaha ngasih respon atau masukan yang sekiranya bisa diterima kalau diliat dari POV saya.
Waktu ini, saya juga terang-terangan bilang. Kalau kedepannya besar kemungkinan saya nggak akan milih "planning hidup" layaknya yang dilakukan mayoritas orang pada umumnya. Dan besar kemungkinan juga bakal buat kecewa keluarga saya.
Lagi, mbak Luna tidak menjudge saya. Tidak membenarkan planning saya. Tapi sangat menghargai pilihan saya. Saya sangat suka type orang seperti ini. Mereka paham yang namanya "ranah".
Terkadang ada beberapa hal dalam hidup seseorang yang sebaiknya tidak dikomentari atau dibicarakan, karena memang setiap hal punya ranah atau batasannya masing-masing.
Dia juga menekankan dan ngasih tau saya kalau nggak bisa kita itu hidup buat menuhin ekspektasi orang lain. Termasuk ekspektasi keluarga sendiri.
Terlepas dari itu semua, At the end, i still believe, There is no reason to not feel grateful for this life about all things that was happen to me, still happen to me and will happen to me.
Saya juga percaya, dikehidupan yang cuman "satu kali" ini. Saya memiliki hak sepenuhnya atas hal yang mau saya lakukan. Saya tidak ingin menuruti keinginan orang lain termasuk keluarga saya hanya supaya dipandang sebagai "orang baik-baik" di tengah masyarakat.
Dilain sisi, saya juga percaya, manusia punya ujian, kebahagiaan dan takdirnya masing-masing. Sisanya tinggal bagaimana setiap insan yang menjalaninya.
Dan dengan sepenuh hati dan dengan kesadaran sepenuhnya, saya mengimani bahwasannya hanya "Tuhan" yang berkapasitas penuh menilai pilihan hidup yang saya lakukan itu baik atau tidak, melainkan bukan berdasarkan standar penilaian yang dimiliki manusia.
Chat yang kami lakukan selama sepersekian jam dan hari ini jadi bukti, saya ternyata masih punya privilege bisa curhat soal "APAPUN" ke seseorang di hidup saya, tanpa harus merasa takut dihakimi atau dibaikan. Ini juga semakin meyakinkan saya kalau curhat soal masalah hidup itu harus sama orang yang tepat, bukan asal-asalan.
Akhir tulisan saya tutup cerita ini sama chat yang dikirim mbak Luna tadi,
Kalimatnya singkat, tapi penuh makna. Mengandung harapan sekaligus doa akan banyaknya kebaikan dan kebahagiaan di masa mendatang dalam hitungan ratusan hari lagi.


















Komentar