INDONESIA-TAIWAN (Rénshēng) PART 8

 


家有一老,如有一宝 (Jiā yǒu yī lǎo, rú yǒu yī bǎo)
Artinya: "Satu orang tua di rumah laksana satu harta karun."



One of the daily activity yang bisa dikatakan hampir tiap hari saya lakukan dari awal tinggal di rumah Ama itu jalan-jalan bareng. 


Kalau selama di PT, kami menyebut istilah jalan-jalan itu "sanpu". Tapi saya dan Ama menyebut kegiatan ini dengan "cou-cou".  


Kalau kalian liat di postingan story mbak-mbak TKW (Tenaga Kerja Wanita) atau PMI (Pekerja Migran Indonesia) seringnya mereka itu jalan-jalan bareng "Ama" atau "Akong" mereka ke taman. 






Tapi, dari awal saya di sini, saya dan Ama seringnya jalan-jalan di sekitar rumah. Kadang ke arah kiri untuk menemui Akong, yang merupakan kerabat ama sebelah rumah, kadang ke tempat bekas pabrik sebelah rumah akong, dan sejak lebih dari sebulan terakhir jalan-jalan di depan rumah. 


Memasuki bulan ke-4 saya di Taiwan, saya merasakan kondisi di sekitar rumah Ama itu tenang, nyaman tapi sepi. 


Secara geografis, Changhua ini ada di tengah-tengah Taiwan. Kalau kata salah satu media di Taiwan daerah ini terkenal sebagai "lumbung pangan" di Taiwan. Maka dari itu urusan makanan di sini bisa dibilang rajanya. Bahkan saya juga pernah nemuin postingan suatu akun medsos kalo Changhua ini salah satu tempat yang dihuni orang-orang kaya di Taiwan. (But i can not confirm yet if this fact is true). 


(PETA TAIWAN)

Ok, back to the main topic, kalau ke luar rumah Ama, saya disuguhkan 2 kondisi yang lumayan bertolak belakang. 


Sebelah depan rumah Ama sana suasana semi metropolis sangat terasa, apartemen tinggi, supermarket, toko berjejeran dan sebagainya. 


Kalau lurus ke arah kanan, sekitar jarak ratusan meter ada salah satu Universitas terbesar di kota ini, namanya "Chienkuo Technology University". 




(Beberapa foto Universitas  Teknologi Chienkuo)



I personally truly wondering about this campus. Kalau bisa menjelaskan saya menggambarkan kampus ini megah tapi tetap punya looks tradisional. 

Setelah saya lihat-lihat di google, ternyata kampus ini itu didirikan tahun 1965, dan menampung Mahasiswa S1 dan S2 dengan berbagai jurusan, dan punya 4 Fakultas, diantaranya fakultas teknik, fakultas manajemen, fakultas desain, dan fakultas teknologi kehidupan. 

Saya juga menemukan profil salah satu mahasiswa berprestasi asal Indonesia yang sempat mengenyam pendidikan di kampus ini.  


https://www.ctu.edu.tw/ 

(Tampilan web resmi kampus "Chienkuo Technology University".👆)


Kembali ke pembahasan utama, kalau melihat rumah Ama, nuansa "hijau-hijauan" masih begitu terasa. Semak-semak, pepohonan, rerumputan, bukit dibagian belakang, bahkan saya juga terbiasa menemui segelintir burung yang setiap sore masih lalu lalang terbang mengelilingi sekitar rumah dan jalanan. 


Tepat berjarak puluhan meter di sebelah kanan dari rumah Ama, ada sebuah bangunan yang tampilannya mirip rumah Ama. Sesekali pemilik rumah itu keluar rumah untuk melakukan obrolan bareng Ama. I dunno well what they are talking about, karena mereka melakukan obrolan pakek bahasa Thayi/Hokkien. 


"Hiya tai tuo Ama" tutur saya ke Ama sambil menunjuk beberapa ikan yang bertebaran di sungai bagian tengah jalan depan rumah Ama. 

Hiya tai tuo Ama, artinya " ikannya banyak banget Ama."

Hiya : ikan (bahasa Thayi)

Tai tuo : sangat banyak (mandarin)

Ama: Nenek (mandarin / Thayi). 


Obrolan soal ikan, menjadi topik yang hampir selalu saya bahas dengan Ama. 

Selain ikan, Koko yang merupakan sebutan anjing juga kerap kami bahas. Selain itu keberadaan tanaman bunga disekitar kami juga hampir selalu disebut. 


"Hao kan" artinya "kelihatan bagus" dalam bahasa Indonesia atau "ketok apik" dalam bahasa Jawa. Anyway, Ama sangat sering bilang gini pas liat bunga mekar yang menurutnya secara looks keliatan bagus. 


(Beberapa foto bunga disekitar rumah Ama)


Kalau dipikir-pikir, obrolan ini nggak penting sama sekali ya? Ngebosenin, Nggak perlu juga malah. Tapi, hal sepele seperti ini membuat saya sadar akan satu hal. 

Obrolan sepele dengan orang lain kadang perlu, ngomongin hal yang nggak penting kadang juga perlu. 

Obrolan kek gini jelas nggak bakal buat kita nambah ilmu, tapi setidaknya bisa bantu kita nggak ngerasa sendiri di suatu tempat & di waktu tertentu. 


"Meiyo ren" kata Ama. 2 kata ini sering banget diucapin Ama pas lagi sanpu diluar rumah. 

"Meiyo ren" artinya "nggak ada orang".  Kalau ini baru bahasa mandarin. 

Sejak pertama kali saya datang ke rumah Ama, saya bisa mengatakan perharinya mungkin cuman liat ada 10 motor yang lewat jalan depan rumah Ama. Itupun rata-rata mereka yang lewat pake motor para pekerja yang lagi benerin jalan yang lagi direnovasi di depan sini. Saking sepinya. 


Setelah beberapa waktu tinggal di rumah Ama, saya menyadari, mungkin ini ya yang dibilang "slow living" versi orang tua di Taiwan. 




Dari total 4 negara saudaranya yang jadi bagian China, Taiwan itu bener-bener bisa dibilang surganya buat kaum Lansia. Negara ini bener-bener memanjakan orang tua, hampir segala fasilitas ada + lengkap. 

(4 negara bersaudara)



Persentase jumlah lansia di sini sangat tinggi, di daerah Changhua sendiri totalnya mencapai 20,37 %. 

(Data persentase jumlah Lansia di Taiwan -> https://indonesia.focustaiwan.tw/society/202601090009 )


Pemerintah Taiwan juga care banget sama kondisi Lansia di negara ini. Bisa dibilang tunjangan lansia di Taiwan double-double, baik dari tunjangan bulanan, subsidi, sampai pas momen tertentu juga ada dana cair buat lansia. 


(Beberapa berita soal banyaknya tunjangan berupa dana dan bantuan lainnya dari pemerintah Taiwan untuk  para lansia -> Link berita )



What a life, what a country. What a service. 


Fakta di atas seketika membuat saya membandingkan dengan kondisi lansia di Indonesia. Bak langit dan bumi. So different, and uncompareable. Rata-rata lansia usia 60 an ke atas sudah sakit-sakitan, masih banyak yang kerja, banyak yang hidupnya nggak layak. Apalagi yang tinggal di daerah pinggiran kota dan desa. 

(Berita lansia terlantar & serba kekurangan di Indonesia)


Dari pengamatan saya, kehidupan slow living Lansia di Taiwan yang dialami Ama sangat tentram. Makan, tidur, nonton TV, jalan-jalan, ngobrol. Jadi rutinitas 24 jam yang dilakukan Ama dan mayoritas Lansia di sini. saking "mulyo" nya hidup mereka. Dan di sini hampir nggak ada drama-drama perselisihan atau ghibah antara mertua dan menantu seperti yang biasa terjadi di Indonesia karena masalah harta. 


Faktanya, ketentraman lansia Taiwan juga membuka rejeki buat jutaan orang dinegara lain. Terutama dari Indonesia, termasuk saya. Data mengatakan jika ada total ratusan ribu orang Indonesia yang bekerja sebagai caregiver perawat lansia di Taiwan. 

Data dari Jurnal yang ditulis mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto tahun 2025 totalnya itu sekitar 70% dari seluruh PMI di Taiwan.

Info lengkap nya 👇 (link. Sumber -> https://jurnal2.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JLH/article/view/348/95




Itu berarti apa ? Ya, pemerintah Taiwan berkontribusi dalam perekonomian rakyat Indonesia dan meminimalisir jumlah pengangguran di Indonesia. 


Realitanya, dari hal yang saya alami secara langsung, maupun dari mayoritas yang dialami mbak-mbak PRT lainnya saya bisa menyimpulkan. Banyak sekali Ama atau akong atau pasien di sini yang kami rawat itu masih sehat. 


Sayangnya mereka memang nggak punya banyak waktu buat ketemu, atau punya waktu bareng anaknya atau anggota keluarganya. Contoh nya Ama sendiri, dari total 4 anaknya, sepengetahuan saya cucunya kalo nggak salah cuman 2 kalau nggak 3.


Itupun yang sering ke sini cuman 1, cewek belasan tahun yang ayahnya Bule. Dan secara kebetulan dia nggak bisa bahasa Thayi. Kenyataan ini buat saya paham, kenapa keluarga Ama memperlakukan saya seperti cucu sendiri. Ya karena nggak ada cucu & anak muda di rumah ini.


Kembali lagi bahas soal lansia di Taiwan. Lansia di sini masih banyak yang sehat, bahkan sangat mandiri, karena apa-apa masih bisa sendiri dan kadang nggak mau dibantu. 


Saya kadang mikir, ya mungkin sebenernya orang-orang seperti saya ini kerja di sini buat nemenin lansia cuman biar nggak kesepian atau biar nggak ngerasa sendiri aja.  


Sebuah fakta yang punya dua sisi, sebuah ironi tapi juga rejeki. Realita ini juga bikin saya tau satu hal penting, ternyata buat sebagian banyak orang kehadiran seseorang disamping kita itu penting banget ya? Meskipun cuman buat nemenin ngobrol atau ngelakuim hal sepele lainnya. Yang penting orangnya harus selalu ada dan selalu barengan. 


Well i think it is. I found an other beauty of this life, and thats make me learn new thing again. 

What a life. What a moment it is. And i personally so glad with this destiny. 


Akhirnya, kata-kata penutup untuk tulisan ini yakni kita wajib pinter-pinter milih calon presiden pas waktu coblosan rek, baca visi-misi mereka jelang masa masa "PEMILU",  baca program mereka selama 5 tahun ke depan kalau kepilih jadi Presiden apa aja. 

(Arti visi misi)

Pilih calon presiden yang punya program mensejahterakan LANSIA seperti pemerintah Taiwan, biar masa tua kalian yang ingin menua di Indonesia terjamin, aman dan tentram dan sejahtera. (It just an advice Joke ....  🤏)

Komentar

Postingan Populer