INDONESIA-TAIWAN (Rénshēng) PART 6
(Jī shàn zhī jiā, bì yǒu yú qìng)
Keluarga yang sering berbuat kebajikan pasti akan ketiban rezeki atau kebahagiaan yang melimpah
This writing would be different, karena saya akan menulis perihal salah satu anak Ama yang setiap beberapa kali seminggu datang ke sini untuk makan siang atau " u can " dengan saya dan Ama.
Sepengetahuan saya, Ama beberapa kali bercerita kalau nama dari "thai-thai" ini adalah "A-cin" jika dilafalkan dalam bahasa Indonesia. Kalau tidak salah, dia adalah anak Ama yang ketiga dari total 4 bersaudara. Dia juga menjadi anak Ama yang mengenyam pendidikan paling tinggi dibanding saudaranya.
Secara tampilan, Thai-thai Acin terlihat paling elegan dan paling "punya" dibanding beberapa saudaranya yang lain.
Hal itu terlihat dari beberapa barang yang dia bawa saat datang ke sini dan dari gestur yang dia tunjukkan.
Soal manner? Jangan ditanya, meski bisa dibilang paling sukses, dia sangat mandiri, sopan, ramah dan pintar.
Kalau berbicara dengan Thai-thai ini, saya kerap kali menggunakan bahasa mix Mandarin dan Inggris. Thai-thai juga sering kali membantu saya berkomunikasi dengan Ama sebagai penutur asli bahasa Thayi, and just being honest, it truly help me to communicate with them.
Dari cerita yang pernah Ama katakan dan dari PP akun line miliknya, saya tau kalau Thai-thai Acin ini memiliki suami bule asal Austria dan satu anak cewek yang masih berusia belasan tahun. I personally could not explain how beautiful she is, yes but as reality, anak mereka berwajah dominan bule dari pada gen Asia dari thai-thai.
And finally, di momen hari Ibu pada awal bulan Mei lalu, kami akhirnya berkesempatan untuk bertemu.
Pada hari itu kami sempat berbincang perihal beberapa topik. Saya juga jadi tau kalau suami dari Thai-Thai Acin ini pernah beberapa kali ke Indonesia dan mengunjungi beberapa tempat salah satunya di Medan untuk melakukan aktivitas diving.
Meski status kami berbeda di rumah ini, tapi Ama dan sekeluarga hampir tidak pernah menunjukkan perlakuan perbedaan hirarki di sini, dalam artian mereka seperti menganggap saya sebagai anggota keluarga sendiri.
Bahkan dari hari pertama datang, sebagian besar waktu lebih sering saya habiskan dengan "use phone & sleep" dari pada bekerja di sini. (Im honestly not lie about this 🤏🏻)
Salah satu momennya terjadi saat kami berkunjung ke outlet perhiasan milik Thai-thai dan suaminya yang bule, di sana saya diberi perhiasan berupa cincin.
"Papi maybe we have a ring for Ana?" Tutur Thai-thai ke suaminya. Seingat saya suami Thai-thai waktu itu langsung mengiyakan. "Well yeah." Kurang lebih begini responnya.
Dan seketika setelahnya Thai-thai Acin mengambil cincin berwarna emas yang terdapat hiasan kecil di tengahnya, bahkan dia sendiri yang memasangkan ke jari kiri tangan saya secara langsung.
Well i feel so glad about it, and it looks so suit in my finger.
Selain perhiasan cincin, saya juga melihat aksesoris lain seperti kalung, liontin dan gelang di outlet perhiasan mereka. Perhiasan ini semua terletak berdampingan dari sisi kiri etalase sampai sisi kanan etalase dengan ukuran dan warna yang berbeda pula.
For your info, dari review yang saya dapat di Google, saya jadi tau kalau semua perhiasan yang dijual di outlet milik Thai-thai dan suaminya asli berasal dari Austria. Jadi bisa dikatakan jika kebanyakan motif perhiasan ini bernuansa Eropa.
Selain diberi cincin. Thai-thai Acin juga sangat sering membawa "sesuatu" saat mengunjungi rumah Ama, bahkan saya juga mendapat baju, makanan, mie, snack, koper, barang-barang dan beberapa pasang sepatu darinya.
What an experience, and how lucky i am to have them in new chapter of ma life.
Xie-xie ni, i feel this writing kinda a bit fancy btw.


.jpeg)






Komentar