INDONESIA-TAIWAN (Rénshēng) PART 5

 



万物皆有时

Semua hal memiliki waktunya masing-masing


Omni homini tempus suum est, 

et omni tempori homines sui

Yang artinya adalah 

"Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya." 

Saya menyadari hal ini berlaku untuk semua orang, literally for everyone, no matter who you are.  Pun untuk saya secara pribadi, hari ini saya sudah berada di Taiwan, negara yang menjadi tempat saya "kongco cuan cien". Orang-orang yang ada disekitar saya sekarang sudah 100% berbeda dengan orang-orang yang ada di sekitar saya selama beberapa bulan yang lalu. 

3-5 bulan yang lalu, saya masih disibukkan dengan segelintir aktifitas pembelajaran bahasa dan praktek kerja di PT, dan hidup bersama segelintir mbak-mbak PT dengan rentang usia 20 sampai 50 tahun.

Di momen ini, pertanyaan yang sering saya dapatkan umumnya berkutat soal pelajaran dan persiapan ke Taiwan

Seperti : 

"Mbak husna apalan opo arepe ?"

"Mbak saman tugase wes mari ?"

"Mbak saman budal nang Taiwan kapan?"

(One of the pict when i still stay in PT with mbak2 Taiwan)


Kondisi yang saya alami sekarang berbeda 360°, 

Saya sudah tinggal di Taiwan bersama Ama di Changhua, dan berinteraksi dengan orang-orang sekitar menggunakan bahasa yang berbeda pula.

Sekarang yang sering saya, Ama atau dengan "thai-thai"  bahas soal masakan dan makanan dalam bahasa Mandarin,  atau Thayi. 

Contohnya seperti ini;

"Mingtien ni chu cekek " (besok masak yang ini).

Terus ada salah satu kata yang bisa saya contohkan adalah kata Hiya (Thayi) = I (Mandarin) = Ikan (B.Indonesia).  Kata ini sangat sering saya buat, karena setiap hari kami makan ikan di sini.

Begitu juga dengan rumah Ama ini, saya meyakini orang yang menghuni dan mendatangi rumah ini sudah silih berganti selama sekian tahun sejak pertama kali rumah ini dibangun. Beda masa, beda orang yang menghuninya.

(Salah satu foto di ruang tamu rumah Ama)

Hal itu terlihat dari keberadaan foto yang dipajang disalah satu sisi rumah Ama di bagian dinding tembok dan di atas piano. 

Sesekali saat lewat, saya mengamati  foto yang ada di bagian ruang tamu. Pada salah satu foto itu, saya bisa mengenali jika wajah yang terpampang di situ adalah Ama dan beberapa anaknya. Sebaliknya, pada bagian foto yang lain, saya merasa tidak familiar dan belum pernah bertemu dengan orang yang ada di foto tersebut.

Jika dilihat dari kasus di atas, saya menyadari jika perubahan dalam hidup bisa terjadi kapan saja bagi siapa saja, dan secara jelas perubahan itu bisa menjadi fase yang meninggalkan banyak perasaan bagi setiap orang yang mengalaminya. 

Saya pribadi tidak bisa menyangkal jika saya merasa senang saat masih di PT, saya bisa bertemu dan kenal dengan banyak orang. Meskipun tetap saja, ada juga sebagian peristiwa yang terasa kurang "masuk" di hati saya. 

Tapi tetap, yang paling tepat digarisbawahi saya mendapatkan banyak ilmu, wejangan serta pelajaran apalagi soal "realita kehidupan" di waktu ini. 


(One of the most challenging moment in PT yakni kebagian piket ruang "buah")

Saya juga mengalami banyak peristiwa yang membuat saya merasa "kuaile" di sini, and obviously i can not "FORGET" that. Those all truly meaningful for me personally with all those girls and women. 

Saya menyadari jika kesempatan saya bertemu dengan banyak orang saat masih di PT kerap kali membuat saya merasakan momen campur aduk yang sebagian bahkan masih sulit untuk saya pahami bahkan sampai sekarang. Tapi yang jelas, itu semua unforgetable. Well i will make it clear once again, mostly all of those are"unFORGETABLE and FANTASTIC". 

Begitu pula di sini saat sudah di Taiwan, belum genap 2 bulan saya disini, sudah banyak sekali momen yang saya dapat dan rasakan, apalagi dengan Ama. Beberapa orang bahkan berceloteh kalau saya lebih terlihat sebagai "CUCU" Ama dari pada PRT di rumah ini. 

Akhir kata, tulisan kali ini akan saya tutup dengan penggalan kalimat dari tulisan Prof. Riza Putranto, bunyinya adalah :


"Sebagian orang memang hadir untuk menemani satu fase tertentu dalam hidup kita. Mengajarkan sesuatu, meninggalkan pelajaran, lalu melanjutkan jalannya sendiri. Sebaliknya, sebagian manusia datang dalam hidupmu untuk mengajarkan kepahitan.

Justru karena manusia hadir sejenak, maka emosi yang muncul bersamanya pun seharusnya juga sejenak.

Sayangnya, kita semua jangan-jangan sering melakukan kebalikannya. Seseorang mungkin hanya singgah sebentar dalam hidup, namun luka, kecewa, atau penyesalan yang ditinggalkan dibawa bertahun-tahun seolah harus menetap selamanya.

Saya menyadari mungkin di situlah pentingnya belajar melepaskan secara perlahan.

Sebetulnya itu bukan melupakan sepenuhnya, bukan pura-pura tidak pernah peduli, tapi memberi ruang pada diri sendiri untuk melanjutkan hidup tanpa terus tinggal di masa lalu." 

This is life guys, maybe not easy sometimes, but i hope all the best for every single of you. And good luck for ur future...... 🤙


Referensi tulisan : 

https://medium.com/berbagi-berdampak/setiap-orang-ada-masanya-setiap-masa-ada-29fd8d92734a (Mei, 2026)



Komentar

Postingan Populer