Welcome back, today is first week of August. Kinda busy but yeah i still wanna up a writing today.
So, this writing gonna be more serious.
I wanna talk about "mental health" atau kalo diterjemahin bahasa Indonesia namanya "kesehatan mental".
Dan kalau ngomongin soal kesehatan mental, maka kaitannya itu sama psikologi.
I personally will talk sedikit soal ini, karena Saya nggak pernah belajar secara formal soal psikologi + selama kuliah nggak pernah dapet mata pelajaran ini dari dosen, selain itu saya juga bukan anak jurusan Psikologi.
Tapi, saya pas masih kuliah pernah beberapa kali baca buku berbau psikologi, sama suka baca jurnal , atau karya ilmiah mahasiswa (akademisi) atau postingan berbau psikologi.
Back to the main topic soal kesehatan mental, sebagai seseorang yang berstatus sebagai TKW atau PMI, saya memahami kalau rekan sejawat saya yang terikat kontrak profesional sama majikan atau atasan mereka adakalanya kerjaannya nggak "mulus-mulus" banget. Hal ini juga jelas ngaruh ke kondisi kesehatan mental mereka.
Menurut jurnal mahasiswa Mercu Buana tahun 2019, bilang kalau TKW atau PMI itu rentan kena psikisnya karena beberapa alasan.
Sumpah iki seumpama tak ketik satu-satu buanyak rek, iki bacaen sendiri penjelasane ndek jurnal ini 👇
Secara garis besar, saya bisa menyimpulkan alasan kenapa TKW atau PMI itu kesehatan mentalnya keganggu karena:
1. Alasan kerjaan (tekanan dari majikan atau atasan)
2. Alasan perbedaan budaya dan bahasa
3. Masalah pribadi (masalah rumah, anak, pasangan, pacar dan seterusnya).
Pada bagian lain jurnal itu yang sumbernya dari buku Psikologi untuk keperawatan tahun 2013 halaman 264-266 kalau
Ciri orang yang mentalnya sehat itu memiliki perasaan batin yang bergairah, tenang dan harmonis, mudah beradaptasi dengan standar, norma, nilai sosial, tuntutan dan perubahan tempat sosialia berada, terdapat koordinasi yang baikantara antara tenaga, aktivitas dan potensi yang ia miliki, struktur kepribadian utuh(terintegrasi) dan teratur (regulasi) secara baik, efisien dalam tindakan,artinya setiap tujuan hidup yang sehat dan masuk akal (realistis), dapat menghayati kenikmatan dan kepuasan dalam memuaskan hidup.
Pertanyaanya, kalau nggak ngerasa bergairah, tenang dan harmonis & sulit beradaptasi apa bisa dikatakan kesehatan mentalnya keganggu? Kemungkinan 99% jawabannya heeh.
Well, saya punya contoh langsung curhatan mbak saya yang ngerasa kesehatan mentalnya bermasalah di lingkungan kerjanya.
Ini sesuai sama chatnya beberapa hari lalu👇
"Wes cuapek banget" atau kalau diterjemahin ke b.jawa artinya "kesele pol polan"
Atau kalau dalam bahasa Inggris bisa diartiin "exhausted".
Saya pikir ini mungkin urusan capek fisik aja ya.
Tapi ternyata katanya bukan. 👇
Terus saya coba scroll lagi chat an kami beberapa hari lalu, ternyata penyebab utama dia ngerasa "cuapek" di sini bukan karena kerjaanya banyak.
Tapi karena ngerasa stres, karena dia ngerasa belum bisa ngerasa "nyaman" sama kerjaanya pas kebagian shift pagi.
Dan kalau ngomongin soal stres, ini hubungannya lebih ke kondisi "psikis" seseorang.
I know it well kalau mbak LM lagi ngerasa spaneng atau exhausted, karena itu saya nyaranin buat keluar bentar, atau gerak. Karena emang ini yang biasa saya lakuin buat ningkatin mood atau buat ngembaliin mood.
Thats why I told her to do the thing that i usually did 👇
I do realized something, bentuk kebiasaan recovery orang-orang itu nggak sama. Ada yang sukanya A, atau B, ada juga yang Z.
Bagian lain yang patut dipahami dari kejadian ini bukan cuman soal ngerasa "cuapek" aja, tapi mbak LM bilang kalau ngasih efek langsung ke fisik & psikis apalagi perasaan.
Dan kondisi anxietynya semakin parah karena selain ngerasa stres, diwaktu yang sama mbak LM ngerasa "sendiri" karena nggak ada orang yang bisa ditanyai.
Saya ngambil kesimpulan, kata-kata "nggak ada yang bimbing atau yang bisa ditanyain" buat seseorang ngerasa nanggung semuanya serba sendiri, dan nggak nemuin solusi pas ada masalah terjadi. Dan ini kenapa di momen tertentu, ada kecenderungan seseorang "pengen banget" buat cerita atau curhat ke orang lain.
Ya biar ngurangin beban tadi, atau sekedar sharing unek-unek yang lagi dirasain.
Sek bentar, saya pribadi termasuk orang yang nggak mau ngasih saran asal-asalan ke orang lain, apalagi kalau kaitannya sama kondisi mental seseorang. Makanya sebagai adik yang baik, saya coba nawarin buat konsultasi ke psikolog online 👇
Spesial notes, saya juga nawarin mbak LM buat milih mau psikolog cewek atau cowok, soalnya ini juga bakal ngaruh ke "kenyamanan" dia pas lagi konsultasi.
Honestly saya pernah beberapa kali konsultasi ke psikolog, tapi lewat online pakek skema chat dan video call.
Tapi kui wes luama, mungkin ada 3 tahun lalu. Lewat aplikasi kalm + zoom.
Terus kemaren aku nawarin mbak LM pake aplikasi lain, halodoc.
Nah, biasanya kalau mau konsultasi, kita bisa baca cv dari psikolog itu. Misal psikolognya umur berapa, prakteknya di rumah sakit atau instansi mana, lulusan universitas mana dan lain sebagainya.
Contohnya ini 👇
Bersambung.....
(Part 2 -> Konsultasi Online )
Komentar